Jumat, 30 Agustus 2013 0 komentar

ASKEP BPH

BPH

a. Pengertian BPH
      Istilah hipertrofi sebenarnya kurang tepat karena yang terjadi adalah hiperplasia kelenjar periuretra yang mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi kapsul bedah. (Anonim FK UI 1995).
Prostat adalah jaringan fibromuskuler dan jaringan kelenjar yang terlihat persis di inferior dari kandung kencing. Prostat normal beratnya + 20 gr, didalamnya berjalan uretra posterior + 2,5 cm.
      Pada bagian anterior difiksasi oleh ligamentum puboprostatikum dan sebelah inferior oleh diafragma urogenitale. Pada prostat bagian posterior bermuara duktus ejakulatoris yang berjalan miring dan berakhir pada verumontanum pada dasar uretra prostatika tepat proksimal dari spingter uretra eksterna.

b.Patofisiologi
      Proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan sehingga perubahan pada saluran kemih juga terjadi secara perlahan-lahan. Pada tahap awal setelah terjadinya pembesaran prostat, resistensi pada leher buli-buli dan daerah prostat meningkat, serta otot destrusor menebal dan merenggang sehingga timbul sakulasi atau divertikel. Fase penebalan destrusor ini disebut fase kompensasi. Apabila keadaan berlanjut, maka destrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensio urin yang selanjutnya dapat menyebabkan hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas.
c. Etiologi
      Penyebab secara pasti belum diketahui, namun terdapat faktor resiko umur dan hormon androgen (Anonim,FK UI,1995). Pada umur diatas 50 tahun, pada orang laki-laki akan timbul mikronodule dari kelenjar prostatnya.
d. Gambaran klinis
      Gejala-gejala pembesaran prostat jinak dikenal sebagai Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS),yang dibedakan menjadi:
1). Gejala iritatif, yaitu sering miksi (frekuensi), terbangun pada malam hari untuk miksi (nokturia),perasaan ingin miksi yang sangat mendesak (urgensi),dan nyeri pada saat miksi (disuria).
2). Gejala obstruktif adalah pancaran melemah, rasa tidak puas setelah miksi, kalau mau miksi harus menunggu lama, harus mengedan,kencing terputus-putus,dan waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensi urin dan inkontinen karena overflow. (Anonim,FK UI,1995).
e. Pemeriksaan penunjang
1).Pemeriksaan laboratorium
Analisis urin dan pemeriksaan mikroskopik urin, elektrolit, kadar ureum kreatinin. Bila perlu Prostate Spesific Antigen (PSA), untuk dasar penentuan biopsi.
2).Pemeriksaan radiologis
Foto polos abdomen, USG, BNO-IVP, Systocopy, dan Cystografi.
f. Penatalaksanaan
1)      Terapi medikamentosa
a)      Penghambat andrenergik a, misalnya prazosin, doxazosin, alfluzosin atau a 1a (tamsulosin).
b)      Penghambat enzim 5-a-reduktase, misalnya finasteride (Poscar)
c)      Fitoterapi, misalnya eviprostat
2)      Terapi bedah
Waktu penanganan untuk tiap pasien bervariasi tergantung beratnya gejala dan komplikasi. Indikasi terapi bedah yaitu :
a)      Retensio urin berulang
b)     Hematuria
c)      Tanda penurunan fungsi ginjal
d)     Infeksi saluran kencing berulang
e)      Tanda-tanda obstruksi berat yaitu divertikel,hidroureter, dan hidronefrosis.
f)      Ada batu saluran kemih.

1. Prostatektomi
   Ada berbagai macam prostatektomi yang dapat dilakukan yang masing – masing mempunyai kelebihan dan kekurangan antara lain :
a.  Prostatektomi Supra pubis.
      Adalah salah satu metode mengangkat kelenjar melalui insisi abdomen. Yaitu suatu insisi yang dibuat kedalam kandung kemih dan kelenjar prostat diangkat dari atas. Pendekatan ini dilakukan untuk kelenjar dengan berbagai ukuran dan beberapa komplikasi dapat terjadi seperti kehilangan darah lebih banyak dibanding metode yang lain. Kerugian lainnya adalah insisi abdomen akan disertai bahaya dari semua prosedur bedah abdomen mayor, seperti kontrol perdarahan lebih sulit, urin dapat bocor disekitar tuba suprapubis, serta pemulihan lebih lama dan tidak nyaman. Keuntungan yang lain dari metode ini adalah secara teknis sederhana, memberika area eksplorasi lebih luas, memungkinkan eksplorasi untuk nodus limfe kankerosa, pengangkatan kelenjar pengobstruksi lebih komplit, serta pengobatan lesi kandung kemih yang berkaitan.
     b.    Prostatektomi  Perineal.
                    Adalah mengangkat kelenjar melalui suatu insisi dalam perineum. Cara ini lebih praktis dibanding cara yang lain, dan sangat berguna untuk biopsi terbuka. Keuntungan yang lain memberikan pendekatan anatomis langsung, drainage oleh bantuan gravitasi, efektif untuk terapi kanker radikal, hemostatik di bawah penglihatan langsung,angka mortalitas rendah, insiden syok lebih rendah, serta ideal bagi pasien dengan prostat yang besar, resiko bedah buruk bagi pasien sangat tua dan ringkih. Pada pasca operasi luka bedah mudah terkontaminasi karena insisi dilakukan dekat dengan rektal. Lebih jauh lagi inkontinensia, impotensi, atau cedera rectal dapat mungkin terjadi  dari cara ini. Kerugian lain adalah kemungkinan kerusakan pada rectum dan spingter eksternal serta  bidang operatif terbatas.
      c.   Prostatektomi retropubik.
              Adalah suatu teknik yang lebih  umum dibanding pendekatan suprapubik dimana insisi abdomen lebih rendah mendekati kelenjar prostat, yaitu antara arkus pubis  dan kandung kemih tanpa tanpa memasuki kandung kemih. Prosedur ini cocok untuk kelenjar besar yang terletak tinggi dalam pubis. Meskipun darah yang keluar dapat dikontrol dengan baik dan letak bedah labih mudah untuk dilihat, infeksi dapat cepat terjadi dalam ruang retropubis. Kelemahan lainnya adalah tidak dapat mengobati penyakit kandung kemih yang berkaitan serta insiden hemorargi akibat pleksus venosa prostat meningkat juga osteitis pubis. Keuntungan yang lain adalah periode pemulihan lebih singkat serta kerusakan spingter kandung kemih lebih sedikit.  
2.   Insisi Prostat Transuretral ( TUIP ).
            Yaitu suatu prosedur  menangani BPH dengan cara memasukkan instrumen melalui uretra. Satu atau dua buah insisi dibuat pada prostat dan kapsul prostat untuk mengurangi tekanan prostat pada uretra dan mengurangi kontriksi uretral. Cara ini diindikasikan ketika kelenjar prostat berukuran kecil ( 30 gram/kurang ) dan efektif dalam mengobati banyak kasus BPH. Cara ini dapat dilakukan  di klinik rawat jalan dan mempunyai angka komplikasi lebih rendah di banding cara lainnya.

3. TURP ( TransUretral Reseksi Prostat )

        TURP adalah suatu operasi pengangkatan jaringan prostat lewat uretra menggunakan resektroskop, dimana resektroskop merupakan endoskop dengan tabung 10-3-F untuk pembedahan uretra yang dilengkapi dengan alat pemotong dan counter yang disambungkan dengan arus listrik. Tindakan ini memerlukan pembiusan umum maupun spinal dan merupakan tindakan invasive yang masih dianggap aman dan tingkat morbiditas minimal.
         TURP merupakan operasi tertutup tanpa insisi serta tidak mempunyai efek merugikan terhadap potensi kesembuhan. Operasi ini dilakukan pada prostat yang mengalami pembesaran antara 30-60 gram, kemudian dilakukan reseksi. Cairan irigasi digunakan secara terus-menerus dengan cairan isotonis selama prosedur. Setelah dilakukan reseksi, penyembuhan terjadi dengan granulasi dan reepitelisasi uretra pars prostatika  (Anonim,FK UI,1995).
         Setelah dilakukan TURP, dipasang kateter Foley tiga saluran no. 24 yang dilengkapi balon 30 ml, untuk memperlancar pembuangan gumpalan darah dari kandung kemih. Irigasi kanding kemih yang konstan dilakukan setelah 24 jam bila tidak keluar bekuan darah lagi. Kemudian kateter dibilas tiap 4 jam sampai cairan jernih. Kateter dingkat setelah 3-5 hari setelah operasi dan pasien harus sudah dapat berkemih dengan lancar.
             TURP masih merupakan standar emas. Indikasi TURP ialah gejala-gejala dari sedang sampai berat, volume prostat kurang dari 60 gram dan pasien cukup sehat untuk menjalani operasi. Komplikasi TURP jangka pendek adalah perdarahan, infeksi, hiponatremia atau retensio oleh karena bekuan darah. Sedangkan komplikasi jangka panjang adalah striktura uretra, ejakulasi retrograd (50-90%), impotensi (4-40%). Karena pembedahan tidak mengobati penyebab BPH, maka biasanya penyakit ini akan timbul kembali 8-10 tahun kemudian.
g.   Komplikasi
       Komplikasi yang dapat terjadi adalah perdarahan, pembentukan bekuan, obstruksi kateter serta disfungsi seksual tergantung dari jenis pembedahan. Kebanyakan prostatektomi tidak menyebabkan impotensi meskipun aktifitas seksual dapat dilakukan kembali setelah 6-8 minggu karena fossa prostatik sudah sembuh. Komplikasi yang lain yaitu perubahan anatomis pada uretra posterior menyebabkan ejakulasi retrogard yaitu setelah ejakulasi cairan seminal mengalir kedalam kandung kemih dan diekskresikan bersama urin. Selain itu vasektomi mungkin dilakukan untuk mencegah penyebaran infeksi dari uretra prostatik melalui vas deference dan ke dalam epidedemis.
        Setelah prostatektomi total ( biasanya untuk kanker )  hampir selalu terjadi impotensi. Bagi pasien yang tak mau kehilangan aktifitas seksualnya, implant prostetik penis mungkin digunakan untuk membuat penis menjadi kaku guna keperluan hubungan seksual.

B. ASUHAN KEPERAWATAN.
Diagnosa keperawatan
   Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien BPH dengan menggunakan diagnosa NANDA antara lain adalah:
1)       Nyeri akut  berhubungan dengan agen injury fisik
2)       Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan primer yang tidak adekuat.
3)       Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
4)       Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan pemahaman tentang proses penyakit.  
5)       PK Perdarahan











Rencana Keperawatan
no
Diagnosa
Tujuan/KH
Intervensi
Rasional
1.
Nyeri b.d agen injury
Rasa nyeri berkurang
KH:
-Menunjukkan rasa nyaman
-TTV dalam rentang normal
-Klien mengatakan nyeri terkontrol
1.     Kaji  keluhan nyeri

2.     Pantau tanda-tanda vital



3.     Berikan tindakan kenyamanan

4.     Anjurkan teknik non farmakologik pengurang nyeri

5.     Beri analgetik sesuai indikasi
Respon autonomis meliputi perubahan TD, nadi dan pernapasan yang berhubungan dengan keluhan/penghilang nyeri

Memberikan dukungan mengurangi ketegangan otot, Relaksasi, memfokus ulang perhatian,  rasa control & kemampuan koping

Titik managemen nyeri
2.
Resiko infeksi b.d prosedur invasif
Pasien tidak mengalami infeksi
KH:
-Klien bebas dari  tanda-tanda infeksi
-Klien mampu menjelaskan tanda&gejala infeksi
1.     Mengobservasi&melaporkan tanda & gejala infeksi, spt kemerahan, hangat, rabas dan peningkatan suhu badan
2.     Mengkaji suhu klien netropeni setiap 4 jam, melaporkan jika temperature lebih dari 380C





3.     Menggunakan thermometer elektronik atau merkuri untuk mengkaji suhu


4.     Catat7laporkan nilai laboratorium





5.     kaji warna kulit, kelembaban kulit, tekstur dan turgor lakukan dokumentasi yang tepat pada setiap perubahan


6.     Dukung untuk konsumsi diet seimbang, penekanan pada protein untuk pembentukan system imun
1.     Onset infeksi dengan system imun diaktivasi&tanda infeksi muncul

2.     Klien dengan netropeni tidak memproduksi cukup respon inflamasi karena itu panas biasanya tanda&sering merupakan satu-satunya tanda

3.     Nilai suhu memiliki konsekuensi yang penting terhadap pengobatan yang tepat

4.     Nilai lab berkorelasi dgn riwayat klien&pemeriksaan fisik utk memberikan pandangan menyeluruh

5.     Dapat mencegah kerusakan kulit, kulit yang utuh merupakan pertahanan pertama terhadap mikroorganisme

6.     Fungsi imun dipengaruhi oleh intake protein
3
Cemas b.d statua kesehatan
Kontrol kecemasan dan coping
Indikator:
Ps mampu:
§  Mengungkapkan cara mengatasi cemas
§  Mampu menggunakan coping
§  Dapat tidur
§  Mengungkapkan tidak ada penyebab fisik yang dapat menyebabkn cemas



1.   Bina Hub. Saling percaya

2.   Libatkan keluarga

3.   Jelaskan semua Prosedur





4.   Hargai pengetahuan ps tentang penyakitnya
5.   Bantu ps untuk mengefektifkan sumber support






6.   Berikan reinfocement untuk menggunakan Sumber Coping yang efektif




1.   Mempermudah intervensi
2.   Mengurangi kecemasan
3.   Membantu ps dlam meningkatkan pengetahuan tentang status kes dan meningkatkan kontrol kecemasan
4.   Merasa dihargai

5.   Dukungan akan memberikan keyakinan thdp peryataan harapan untuk sembuh/masa depan

6.   Penggunaan Strategi adaptasi secara bertahap ( dari mekanisme pertahan, coping, samapi strategi penguasaan) membantu ps cepat mengadaptasi kecemsan

4.
Kurang pengetahuan b.d kurang mengakses informasi kesehatan
Pengetahuan klien meningkat
KH:
-Klien & keluarga memahami tentang penyakit BPH, perawatan dan pengobatan
1.     Mengkaji kesiapan&kemampuan klien untuk belajar



2.     Mengkaji pengetahuan & ketrampilan klien sebelumnya tentang penyakit&pengaruhnya terhadap keinginan belajar



3.     Berikan materi yang paling penting pada klien




4.     Mengidentifikasi sumber dukungan utama&perhatikan kemampuan klien untuk belajar & mendukung perubahan perilaku yang diperlukan
5.     Mengkaji keinginan keluarga untuk mendukung perubahan perilaku klien
6.     Evaluasi hasi pembelajarn klie lewat demonstrasi&menyebautkan kembali materi yang diajarkan
1.     Proses belajar tergantung pada situasi tertentu, interaksi social, nilai budaya dan lingkungan
2.     Informasi baru diserap meallui asumsi dan fakta sebelumnya dan bias mempengaruhi proses transformasi
3.     Informasi akan lebih mengena apabila dijelaskan dari konsep yang sederhana ke yang komplek
4.     Dukungan keluarga diperlukan untuk mendukung perubahan perilaku
5.
PK: Perdarahan
Tidak terjadi perdarahan
KH:
-Tidak ada tanda-tanda perdarahan pada haluran urin
-Urin output ± 30 ml/jam

1.     Pantau:Tanda-tanda vital/4   jam







2.     Masukan dan haluran urin/8 jam warna urin








3.     Beritahu dokter bila urin berwarna merah terang/gelap










4.     Ketika menarik kateter foley, instruksikan pasien untuk menekuk kaki dimana kateter dipasang, lepaskan jika ada instruksi dokter

5.     Sediakan makanan tinggi serat dan memberikan obat untuk memudahkan defikasi, apabila ada riwayat konstipasi rigasi kateter jika terdeteksi gumpalan pada saluran kateter


1.     Deteksi awal terhadap komplikasi dgn intervensi awal yang tepat dapat mencegah kerusakan jaringan yang permanent
2.     Normalnya haluran urin dalam 24 jam pertama berwarna merah ceri terang secara bertahap menjadi merah terang dan jernih dalam beberapa hari
3.     Penarikan dilakukan setelah TURP untuk memungkinkan hemostatis. Dalam menggunakan kateter urolog akan menempatkan kateter dan melekatkan pada abdomen bawah
4.     Dgn peningkatan pada fosa prostatika ayang akan mengendapkan perdarahan
5.     Gumpalan dapat menyumbat kateter dan mengakibatkan peregangan dan perdarahan kateter



0 komentar

ASKEP LIMFOMA

LIMFOMA

Definisi

Limfoma merupakan golongan gangguan limfoproliferatif. Penyebabnya tidak diketahui, tetapi dikaitkan dengan virus Epstein Barr yang ditemukan pada limfoma Burkitt. Dua kategori besar limfoma dilakukan atas dasar histopatologis mikroskopik kelenjar limfe yang terlibat. Kategori tersebut adalah limfoma penyakit Hodkin dan Non – Hodkin.

Patofisiologi
Awal pembentukan tumor pada gangguan ini adalah pada jaringan limfatik sekunder (seperti kelenjar limfe dan limpa)dan selanjutnya dapat timbul penyebaran ke sumsum tulang dan jaringan lain.
Klasifikasi Ann Arbor untuk menentukan stadium penyakit Hodkin dan Limfoma :
1.      Stadium 1 : penyakit mengenai satu kelenjar limfe regional yang terletak di atas atau di bawah diafragma, atau satu  organ atau tempat ekstralimfatik
2.      Stadium 2 : penyakit mengenai lebih dari dua daerah yang berdekatan atau dua daerah yang tidak berdekatan pada satu sisi diafragma, atau satu organ atau tempat ekstralimfatik sepanjang satu kelenjar limfe regional atau lebih pada sisi yang sama dari diafragma
3.      Stadium 3 : penyakit menyebar ke atas dan ke bawah diafragama  , tetapi terbatas hanya pada kelenjar – kelenjar limfe atau ditambah dengan organ atau tempat ekstralimfatik
4.      Stadium 4 : penyakit telah menjadi difus atau menyebar mengenai satu atau lebih organ atau jaringan ekstralimfatik, seperti sumsum tulang belakang atau hati.

Penyakit Hodkin

Secara histologis penyakit ini diklasifikasikan sebagai lymphocyte predominance, nodular sclerosis, mixed celularity, atau lymphocyte depletion. Predominansi limposit umumnya terbatas pada stadium 1 atau 2, sedangkan sclerosis nodular terjadi dengan terlibatnya hilus dan mediastinum. Deplesi limfosit sering terlihat pada penyakit stadium 3 atau 4. Sel Reed Stenberg yang merupakan bentuk histiosit (makrofag jaringan )ganas adalah temuan khas pada limfoma Hodkin 

Penyakit non Hodkin

Merupakan kelompok penyakit heterogen yang dapat didefinisikan sebagai keganasan jaringan limfoid selain penyakit Hodkin. Penyebabnya tidak diketahui ; kemungkinan virus.

Tanda dan gejala

Penyakit Hodkin
Penderita muda umumnya menunjukan kelenjar limfe yang keras , teraba seperti karet, dan membesar, di daerah leher bawah atau daerah supraklavikula, atau disertai batuk kering non produktif sekunder akibat limfadenopati hilus. Kira – kira 25 % dari penderita memiliki gejala demam persisten yang tidak diketahui penyebabnya dan atau keringat di malam hari. Ditambah penurunan berat badan. Pada kasus – kasus tertentu terdapat demam Pel –Ebstein (demam yang memiliki pola siklis , dimana suhu tubuh pada malam hari meningkat, berlangsung dari beberapa hari sampai berminggu – minggu).
Penyakit non Hodkin
 Timbul gejala – gejala demam, penurunan berat badan, berkeringat pada malam hari, tapi insidennya lebih rendah disbanding penyakit Hodkin. Kira – kira 20% atau lebih penderita menunjukan gejala   - gejala yang berkaitan dengan pembesaran kelenjar limfe retroperitonial atau mesenterium, dan timbul nyeri abdomen atau buang air besar yang tidak teratur.

Kemungkinan komplikasi
Apabila penyakit tidak ditangani , perjalanannya akan berlanjut ; pasien akan kehilangan berat badan  dan menjadi kakeksia (kelemahan secara fisik), terjadi infeksi, anemia, timbul edema anasarka(edema umum yang berat,), tekanan darah turun dan kematian pasti akan terjadi dalam    1 – 3 tahun tanpa penaganan.

Pemeriksaan penunjang
Diagnosis penyakit Hodkin tergantung pada ditemukannya sel Reed Sternberg di nodus limfatikus yang diambil. Uji laboratorium meliputi hitung darah lengkap , hitung trombosit, laju endap darah, dan pemeriksaan fungsi hati dan ginjal. Biopsy sumsum tulang dan scan hati dan limpa dilakukan untuk menentukan apakah organ tersebut terlibat. Rontgen dada dan scan tulang pelvis, vertebra dan tulang panjang dilakukan untuk mengidentifikasi keterlibatanya.

Penatalaksanaan
Pada penyakit Hodkin penatalaksanaan terutama ditentukan oleh stadium penyakitnya dan bukan oleh jenis histologisnya. Penyakit Hodkin potensial dapat disembuhkan dengan radioterapi, selama masih terbatas pada rangkaian nodus limfe, limpa dan orofaring. Pasien yang penyakitnya belum menyebar harus mendapat radiasi kuratif dengan dosis yang cukup tinggi untuk menghancurkan sel tumor tidak hanya pada nodus tumor yang jelas tampak, tapi juga pada nodus di sekitarnya dan rangkaian nodus limfatikus. Bila ada tanda penyebaran di luar daerah yang dapat ditangani tentu saja secara otomatis tidak memungkinkan pasien untuk menjalani program tersebut, dimana pada kasus tersebut dapat diberikan kombinasi kemoterapi dan radioterapi paliatif.
Pada penyakit non Hodkin, apabila masih terlokalisasi , radiasi merupakan penanganan pilihan. Jika terdapat keterlibatan umum , dipakai kombinasi kemoterapi.

KEMOTERAPI
Pengertian
Kemoterapi adalah obat anti cancer yang diberikan dengan tujuan untuk menghambat pertumbuhan dan menghancurkan sel-sel cancer.

Teknik memberikan kemoterapi
1.      Teknik adjuvant, yaitu kemoterapi diberikan sesudah operasi tujuannya untuk menghancurkan sel-sel cancer yang sudah terlanjur menyebar tetapi belum memberikan gejala (mikro metastase).
2.      Teknik neoadjuvant, yaitu kemoterapi diberikan sebelum operasi tujuannya untuk membuat tumor yang sangat besar bila diopersai menjadi lebih kecil sehingga memungkinkan untuk dilakukan operasi.
3.      Teknik memberikan kemoterapi pada cancer yang sudah metastase, dengan tujuan untuk menghilangkan gejala, merperbaiki kualitas hidup dan memperpanjang usia penderita. 


Cara memberikan kemoterapi
            Kemoterapi diberikan melalui injeksi intravena, ada juga yang per oral, frekuensi pemberian tergantung dari jenis obat dan regimen yang digunakan. Umumnya diberikan setiap 3-4 minngu, ada juga yang setiap 1-2 minggu. Lama pemberian 4-6 kali ada beberapa yang diberikan 8-12 kali. Untuk evaluasi hasil pengobatan teknik neoadjuvant dilakukan setelah tiga kali siklus, untuk teknik adjuvant antara 3-5 tahun, dan akan dilakukan pemeriksaan berkala meliputi pemeriksaan fisik, laboratorium, USG, CT-Scan setiap 6-12 bulan. Syarat pemberian kemoterapi adalah keadaan umum baik, tidak didapatkan gangguan fungsi darah, hati dan ginjal.

Efek samping Kemoterapi
            Efek samping kemoterapi yang paling sering dijumpai adalah mual, muntah, penurunan jumlah sel-sel darah, dan rambut rontok, efeksamping yang lain relatif jarang dijumpai tergantung dari jenis obat yang diberikan.
            Faktor utama yang menentukan apakah penderita yang menjalani kemoterapi akan mengalami mual-muntah adalah jenis obat yang diberikan. Beberapa jenis obat  efek mual dan muntahnya sangat kuat adalah golongan cisplatin, yang efek mual sangat ringan golongan 5 FU.
            Kemoterapi dapat menimbulkan muntah karena obat kemoterapi merangsang saraf mual yang terdapat di dinding saluran cerna, kedua akan merangsang pusat mual dan muntah yang ada di otak. Mual-muntah dapat terjadi akut 1 sampai 24 jam pertama setelah kemoterapi, lambat terjadi 2 sampai 7 hari setelah kemoterapi, bahkan ada yang sebelum kemoterapi yang disebut antisipatori vomitus.
            Prinsip utama pengangan muntah akibat kemoterapi adalah pencegahan dengan cara memberikan obat anti mual dan muntah sebelum kemoterapi diberikan. Efek samping kerontokan rambut tidak dapat dicegah tetapi rambut akan tumbuh 3 sampai 6 bulan setelah kemoterapi selesai.





PROSES PERAWATAN PADA KLIEN LIMFOMA YANG MENJALANI KEMOTERAPI
PENGKAJIAN
            Hal yang perlu dikaji pada klien dengan limfoma adalah reaksi klien terhadap diagnosis dan kemampuannya untuk mengatasi situasi tersebut, keluhan yang dirasakan sebelum kemoterapi, selama dan sesudah kemoterapi.
            Berdasarkan pengkajian dan gejala yang muncul diagnosa keperawatan utama mencakup antara lain :
1.      Kurang pengetahuan tentang penyakit limfoma, terapi (kemoterapi) dan pilihan pengobatan berhubungan dengan kurang paparan sumber informasi.
2.      Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri kimia (proses cancer, atau terapi kemoterapi, diskontinuitas jaringan).
3.      Resiko infeksi berhubungan dengan inadekuat pertahanan primer atau imunosupresi.
4.      Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor psikologis.
5.      Cemas berhubungan dengan status kesehatan. 
6.      Hipertermi berhubungan dengan penyakitnya. 

RENCANA KEPERAWATAN
1.      Dx : Kurang pengetahuan tentang penyakit limfoma, terapi (kemoterapi) dan pilihan pengobatan berhubungan dengan kurang paparan sumber informasi.
NOC dan indikator
NIC dan aktifitas
NOC : Pengetahuan tentang penyakit dan terapi, setelah diberikan penjelasan 2x klien mengerti proses penyakit dan program terapi serta perawatan yang diberikan.
Indikator :
Klien mampu menjelaskan kembali tentang proses penyakit. Program terapi dan mengenal kebutuhan perawatan tanpa cemas
NIC : Pengetahuan penyakit
Aktifitas :
1.      Jelaskan tentang proses penyakit.
2.      Jelaskan tentang program pengobatan dan alternatif pengobatan.
3.      Jelaskan tindakan untuk mencegah komplikasi.
4.      Tanyakan kembali   pengetahuan klien tentang penyakit, prosedur perawatan dan pengobatan.

2.      Dx Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri kimia (proses cancer, atau terapi kemoterapi, diskontinuitas jaringan).
NOC dan indikator
NIC dan aktifitas
NOC : Kontrol nyeri, setelah dilakukan perawatan 3x24 jam nyeri klien berkurang.
Indikator,
1.       Menggunakan skala nyeri untuk mengidentifikasi tingkat nyeri.
2.       Klien menyatakan nyeri berkurang.
3.       Klien mampu istirahat/tidur.
4.       Menggunakan teknik non farmakologi.
NIC : Manajemen nyeri
Aktifitas :
1.      Lakukan penilaian terhadap nyeri, lokasi, karakteristik dan faktor-faktor yang dapat menambah nyeri.
2.      Amati isyarat non verbal tentang kegelisahan.
3.      Fasilitasi lingkungan nyaman.
4.      Berikan obat anti sakit.
5.      Bantu klien menemukan posisi yang nyaman.
6.      Berikan massage di punggung.


3.      Dx Resiko infeksi berhubungan dengan inadekuat pertahanan primer atau imunosupresi.
NOC dan indikator
NIC dan aktifitas
NOC : Kontrol infeksi dan kontrol resiko, setelah dilakukan perawatan 3x24 jam tidak terjadi infeksi sekunder.
Indikator,
1.      Bebas dari tanda-tanda infeksi.
2.      Angka leukosit normal.
3.      Klien mengatakan tahu tentang tanda-tanda infeksi.

NIC : Perawatan payudara/luka
Aktifitas :
1.      Amati luka dari tanda-tanda infeksi.
2.      Lakukan perawtan payudara dengan teknik aseptik dan gunakan kassa steril untuk mearawat dan menutup luka.
3.      Anjurkan pada klien untuk melaporkan dan mengenali tanda-tanda infeksi.
4.      Kelola terapi sesuai program. 

NIC : Kontrol infeksi
1.      Batasi pengunjung.
2.      Cuci tangan sebelum dan sesudah merawat klien.
3.      Tingkatkan masukan gizi yang cukup.
4.      Anjurkan istirahat cukup.
5.      Pastikan penanganan asepti derah IV.
6.      Berikan PENKES tentang resiko infeksi.
4.      Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor psikologis.
NOC dan indikator
NIC dan aktifitas
NOC : Status nutrisi, setelah diberikan penjelasan dan perawatan 4x24 jam kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.
Indikator :
1.   Pemasukan nutrisi yang adekuat.
2.   Klien mampu menghabiskan diet yang dihidangkan.
3.   Tidak ada tanda-tanda malnutrisi.
4.   Nilai laboratorium, protein total 6-8 gr%, albumin 3,5-5,4 gr%, globulin 1,8-3,6 gr%, Hb tidak kurang dari 10 gr%.
5.   Membran mukosa dan konjungtiva tidak pucat.
NIC : Terapi gizi.
Aktifitas :
1.  Monitor masukan makanan/minuman dan hitung kalori harian secara tepat.
2.  Kolaborasi ahli gizi.
3.  Pastikan dapat diet TKTP.
4.  Berikan perawatan mulut.
5.  Pantau hasil laboratorium protein, albumin, globulin dan Hb.
6.  Jauhkan benda-benda yang tidak enak untuk dipandang seperti urinal, kotak drainase bebat dan pispot.
7.  Sajikan makanan yang hangat dengan variasi yang menarik.


5.      Cemas berhubungan dengan status kesehatan.   
NOC dan indikator
NIC dan aktifitas
NOC : Kontrol kecemasan dan coping, setelah dilakukan perawatan 2x24 jam cemas klien hilang atau berkurang.
Indikator,
1.      Mengungkapkan cara mengatasi cemas.
2.      Mampu menggunakan coping.
3.      Bisa tidur.
4.      Mengungkapkan tidak ada penyebab fisik yang dapat menyebabkan cemas
NIC : Penurunan kecemasan.
Aktifitas :
1.      Bina hubungan saling percaya.
2.      Libatkan keluarga.
3.      Jelaskan semua prosedur.
4.      Hargai pengetahuan klien tentang penyakitnya.
5.      Bantu klien untuk mengefektifkan sumber support.
7.      Berikan reinforcemen untuk menggunakan sumber coping yang efektif.





6.      Hipertermi berhubungan dengan penyakitnya. 
NOC dan indikator
NIC dan aktifitas
NOC : Termoregulasi, setelah dilakukan perawatan 1x24 jam klien dapat menunjukkan termoregulasi yang baik.
Indikator,
1.      Suhu tubuh dalam batas normal.
2.      Nadi dan RR dalam rentang normal.
3.      Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak pusing.
NIC : Pengaturan suhu
Aktifitas
1.   Monitor suhu tiap 2 jam.
2.   Monitor TD, nadi dan RR.
3.   Monitor warna dan suhu kulit.
4.   Monitor tanda-tanda hipertemi dan hipotermi.
5.   Tingkatkan intake cairan dan nutrisi.
6.   Selimuti klien untuk mencegah hilangnya kehangatan tubuh.
7.   Ajarkan pada klien cara mencegah keletihan akibat panas.
8.   Diskusikan tentang pentingnya pengaturan suhu dan kemungkinan efek negatif dari kedinginan.
9.   Berikan antipiretik jika perlu


 
;