Selasa, 12 Februari 2013

KONSEP ASKEP KELENJAR TIROID



BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kelenjar tiroid terdiri dari dua lobus yang terletak di sebelah kanan trakea, diikat bersama oleh jaringan tiroid dan yang melintasi trakea disebelah depan. Kelenjar ini merupakan kelenjar yang terdapat di dalam leher bagian depan bawah, melekat pada dinding laring. Atas pengaruh hormone yang di hasilkan oleh kelenjar hipofise lobus anterior, kelenjar tiroid ini dpat memproduksi hormone tiroksin. Adapun fungsi dari hormone tiroksin adalah mengatur pertukaran zat/metabolism dalam tubuh dan mengatur pertumbuhan jasmani dan rohani.
Struktur kelenjar tiroid terdiri atas sejumlah besar vesikel-vesikel yang dibatasi oleh epitalium silinder, disatukan oleh jaringan ikat. Sel-selnya mengeluarkan sera, cairan yang bersifat lekat yaitu  koloid tiroid yang mengandung zat senyawa yodium dan dinamakan hormone tiroksin. Skret ini mengisi vesikel dan dari sini berjalan ke aliran darah baik langsung maupun melalui saluran limfe.
Hipofungsi kelenjar ini menyebabkan penyakit kretinismus dan penyakit miksedema. Hiperfungsi kelenjar ini menyebabkan penyakit eksoftalmik goiter. Sekresi tiroid di atur oleh sebuah hormone dari lobus anterior kelenjar hipofisis yaitu oleh hormone tirotropik. (Syarifudin. 2006)
Fungsi kelenjar tiroid sangat erat dengan kegiatan metabolik dalam hal pengaturan susunan kimia dan jaringan. Adapun fungsi dari kelenjar tiroid, sebagai berikut:
a.    Bekerja sebagai perangsang proses oksidasi
b.    Mengatur penggunaan oksidasi
c.    Mengatur penggunaan karbon dioksida
d.   Metabolic dalam hati pengaturan susunan kimia dalam jaringan
e.    Mempengaruhi perkembangan fisik dan mental pada anak
Kelenjar ini mengahasilkan hormone tiroksin yang memegang peranan penting dalam mengatur metabolism yang dihasilkannya, merangsang laju sel-sel dalam tubuh melakukan oksidasi terhadap bahan makanan, memegang peranan penting dalam pengawasan metabolism secara keseluruhan. Hormone tiroid memerlukan bantuan hormone TSH (thyroid stimulating hormone) untuk endositosis koloid oleh mikrovili, enzim proteolitik untuk memecahkan ikatan hormone T3 (triiodotironin) dan T4 (tetraiodotironin) dari triglobulin untuk melepaskan T3 dan T4.
Distribusi dalam plasma terikat pada protein plasma (protein bound iodine, PBI). Sebagain besar PBI T4 dan sebagain PBI T3 terikat pada protein jaringan yang bebas dan seimbang. Reaksi yang diperlukan untuk sintesis dan sekresi hormone adalah:
a.       Tranfor aktif iodide (senyawa yodium) dari plasma dalam tiroid dan lumen folikel dari folikel dibantu oleh TSH.
b.      Dalam kelenjar tiroid iodide dioksidasi menjadi ionin aktif di bantu TSH.
c.       Iodine mengalami perubahan kondensasi oksidatif bantuan peroksidase.
d.      Tahap terakhir pelepasan iodotironin yang bebas ke dalam darah. (Syarifudin, 2006)
Hiposekresi/hipotiroidisme terjadi bila kelenjar tiroid kurang mengeluarkan secret pada waktu bayi, mengakibatkan suatu keadaan yang dikenal sebagai kretinisme berupa hambatan pertumbuhan mental dan fisik. Pada orang dewasa kekurangan sekresi menyebabkan miksedema, proses metabolik mundur dan terdapat kecenderungan untuk bertambah berat, geraknya lambat, cara berpikir dan berbicara lamban, kulit menjadi tebal dan berkeringat, rambut rontok, suhu badan dibawah normal dan denyut nadi melambat.
Hioertiroid dimana gejalanya merupakan kebalikan dari miksedema yaitu: kecepatan metabolisme meningkat, suhu tubuh tinggi, berat badan turun, gelisah, mudah marah,, denyut nadi naik, pengaruhnya pada vasculer mencakup fibrilasi atrium, kegagalan jantung. Pada keadaan yang dikenal sebagai penyakit trauma atau gondok eksoftalmus, mata menonjol keluar.
Di atas telah dijelaskan tentang kelenjar tiroid dan beberapa gangguan yang terjadi pada kelenjar tiroid. Dan pada makalah ini akan membahas gangguan system endokrin yang berhubungan dengan kelenjar tiroid yaitu “Hipotirodisme”
1.2.Tujuan
1.2.1.      Tujuan Umum
             Adapun tujuan umumnya adalah agar pembaca mengetahui, mengerti dan mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan “Hipotiroidisme”.
1.2.2.      Tujuan Khusus
            Adapun tujuan khususnya adalah agar pembaca mengetahui, mengerti dan mampu melaksanakan:
a.    Pengkajian keperawatan pada pasien yang mengalami hipotiroidisme.
b.    Diagnosa keperawatan pada pasien yang mengalami hipotiroidisme.
c.    Intervensi keperawatan pada pasien yang mengalami hipotiroidisme
d.   Implementasi keperawatan pada pasien yang mengalami hipotiroidisme
e.    Evaluasi keperawatan pada pasien yang mengalami hipotiroidisme
1.3.Manfaat
a.       Mahasiswa dapat mengetahui, mengerti dan mampu melaksanakan pengkajian keperawatan pada pasien dengan hipotiroidisme.
b.      Mahasiswa dapat mengetahui, mengerti dan mampu melaksanakan diagnosa keperawatan pada pasien dengan hipotiroidisme.
c.       Mahasiswa dapat mengetahui, mengerti dan mampu melaksanakan intervensi keperawatan pada pasien dengan hipotiroidisme.
d.      Mahasiswa dapat mengetahui, mengerti dan mampu melaksanakan implementasi keperawatan pada pasien dengan hipotiroidisme.
e.       Mahasiswa dapat mengetahui, mengerti dan mampu melaksanakan evaluasi keperawatan pada pasien dengan hipotiroidisme.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.  Laporan Pendahuluan
2.1.1.      Pengertian
Hipotiroidisme (hypothyroidism) yaitu keadaan abnormal karena hipofungsi kelenjar gondok. (Ramali, Ahmad. 2000)
Hipotiroidisme adalah satu keadaan penyakit disebabkan oleh kurang penghasilan hormon tiroid oleh kelenjar tiroid. Hipotiroidisme adalah suatu keadaan dimana kelenjar tiroid kurang aktif dan menghasilkan terlalu sedikit hormone tiroid. Hipotiroid yang sangat berat disebut miksedema. Hipotiroidisme terjadi akibat penurunan kadar hormon tiroid dalam darah. Kelainan ini kadang-kadang disebut miksedema. ()
Hipotiroidisme merupakan keadaan yang di tandai dengan terjadinya hipofungsi tiroid yang berjalan lambat dan diikuti oleh gejala-gejala kegagalan tiroid. Keadaan ini terjadi akibat kadar hormon tiroid berada di bawah nilai optimal. (Brunner & Suddarth. 2002)
2.1.2.      Klasifikasi
Klasifikasi Hipotiroid menurut penyebabnya :
a)      Hipotiroidime primer (tiroidal)
hipotiroidime primer (tiroidal) ini mengacu kepada difungsi kelenjer tiroid itu sendiri. lebih dari 95% penderita hipotiroidime mengalami hipotiroidime tipe ini.
b)      Hipotiroidime sentral (hipotiroidime sekunder/pituitaria)
adalah disfungsi tiroide yang disebabkan oleh kelenjer hipofisis, hipolatamus, atau keduanya.
c)      Hipotiroidime tertier (hipotalamus)
ditimbulkan oleh kelainan hipotalamus yang mengakibatkan sekresi tsh tidak adikuat aktibat penurunan stimulasi TRH. (Brunner&Suddarth :1300)
Klasifikasi hipotiroid menurut usia :
a)      Kretinisme (Hipotiroidisme congietal)
adalah difisiensi tiroid yang diderita sebelum atau segera sesudah lahir. pada keadaan ini, ibu mungkin juga menderita difisiensi tiroid.
b)      Hipotiroidisme juvenilis
Timbul sesudah usia 1 atau 2 tahun.
c)      Miksedema
adalah penumpukan mukopolisakarida dalam jaringan supkutan dan intersisial lainnya. Meskipun meksedema terjadi pada hipotiroidime yang sudah berlangsung lama dan bera, istilah tersebut hanya dapat digunakan untuk menyatakan gejala ekstrim pada hipotiroidime yang berat. (Brunner & Suddarth. 2002)
2.1.3.      Etiologi
Hipotiroidisme dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau hipotalamus. Apabila disebabkan oleh malfungsi kelenjar tiroid, maka kadar HT yang rendah akan disertai oleh peningkatan kadar TSH dan TRH karena tidak adanya umpan balik negative oleh HT pada hipofisis anterior dan hipotalamus. Apabila hipotiroidisme terjadi akibat malfungsi hipofisis, maka kadar HT yang rendah disebabkan oleh rendahnya kadar TSH. TRH dari hipotalamus tinggi karena. tidak adanya umpan balik negatif baik dari TSH maupun HT. Hipotiroidisme yang disebabkan oleh malfungsi hipotalamus akan menyebabkan rendahnya kadar HT, TSH, dan TRH.
Penyakit Hipotiroidisme
1.      Penyakit Hashimoto, juga disebut tiroiditis otoimun, terjadi akibat adanya otoantibodi yang merusak jaringan kelenjar tiroid. Hal ini menyebabkan penurunan HT disertai peningkatan kadar TSH dan TRH akibat umpan balik negatif yang minimal, Penyebab tiroiditis otoimun tidak diketahui, tetapi tampaknya terdapat kecenderungan genetik untuk mengidap penyakit ini. Penyebab yang paling sering ditemukan adalah tiroiditis Hashimoto.Pada tiroiditis Hashimoto, kelenjar tiroid seringkali membesar dan hipotiroidisme terjadi beberapa bulan kemudian akibat rusaknya daerah kelenjar yang masih berfungsi.
2.      Penyebab kedua tersering adalah pengobatan terhadap hipertiroidisme. Baik yodium radioaktif maupun pembedahan cenderung menyebabkan hipotiroidisme.
3.      Gondok endemik adalah hipotiroidisme akibat defisiensi iodium dalam makanan. Gondok adalah pembesaran kelenjar tiroid. Pada defisiensi iodiurn terjadi gondok karena sel-sel tiroid menjadi aktif berlebihan dan hipertrofik dalarn usaha untuk menyerap sernua iodium yang tersisa dalam. darah. Kadar HT yang rendah akan disertai kadar TSH dan TRH yang tinggi karena minimnya umpan balik.Kekurangan yodium jangka panjang dalam makanan, menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid yang kurang aktif (hipotiroidisme goitrosa).
4.      Kekurangan yodium jangka panjang merupakan penyebab tersering dari hipotiroidisme di negara terbelakang.
5.      Karsinoma tiroid dapat, tetapi tidak selalu, menyebabkan hipotiroidisme. Namun, terapi untuk kanker yang jarang dijumpai ini antara lain adalah tiroidektomi, pemberian obat penekan TSH, atau terapi iodium radioaktif untuk mengbancurkan jaringan tiroid. Semua pengobatan ini dapat menyebabkan hipotiroidisme. Pajanan ke radiasi, terutama masa anak-anak, adalah penyebab kanker tiroid. Defisiensi iodium juga dapat meningkatkan risiko pembentukan kanker tiroid karena hal tersebut merangsang proliferasi dan hiperplasia sel tiroid. (Brunner & Suddarth. 2002)






2.1.4.      Patofisiologi
Penyimpanan KDM






Gangguan fungsi hipoyelamus/ hipofisis
 

Gangguan organic kelenjar tiroid
 

 
                            

















 


























(sumber:  )

2.1.5.      Tanda dan Gejala
Gejala dini hipotoroidisme tidak spesifik, namun kelemahan yang ekstrim menyulitkan penderitanya untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari secara penuh atau ikut serta dalam aktifitas yang lazim dilakukannya. Laporan tentang adanya kerontokan rambut, kuku yang rapuh serta kulit yang kering sering ditemukan, dan keluhan rasa baal serta parestesia pada jari-jari tangan dapat terjadi. Kadang-kadang suara menjadi kasar, dan mungkin pasien mengeluhkan suara yang parau. Gangguan haid seperti menorhagia atau amenore akan terjadi di samping hilangnya libido. Hipotiroidisme menyerang wanita lima kali lebih sering dibandingkan laki-laki dan paling sering terjadi pada usia di antara 30 hingga 60 tahun.
Hipotiroidisme berat mengakibatkan suhu tubuh dan frekuensi nadi subnormal. Pasien biasanya mulai mengalami kenaikan berat badan yang bahkan terjadi tanpa peningkatan asupan makanan, meskipun penderita hipotiroid yang berat dapat terlihat kakeksia. Kulit menjadi tebal karena penumpukan mukopolisakarida dalam jaringan subkutan (asal mula istilah miksedema). Rambut menipis dan rontok; wajah tampak tanpa ekspresi dan mirip topeng. Pasien sering mengeluhkan rasa dingin meskipun dalam lingkungan yang hangat.
Pada mulanya, pasien mungkin mudah tersinggung dan mengeluh merasa lemah; namun dengan berlanjutnya kondisi tersebut, respons emosional di atas akan berkurang.  Proses mental menjadi tumpul, dan pasien tampak apatis. Bicar menjadi lambat, lidah membesar, dan ukuran tangan serta kaki bertambah. Pasien sering mengeluh konstipasi. Ketulian dapat pula terjadi.
Hipotiroidisme lanjut dapat menyebabkan dimensia disertai perubahan kognitif dan kepribadian yang khas. Respirasi yang tidak memadai dan apnu saat tidur dapat terjadi pada hipotiroidisme yang berat. Efusi pleura, efusi pericardial dan kelemahan otot pernapasan dapat pula terjadi.
Hipotiroidisme berat akan disertai dengan kenaikan kadar kolestrol serum, aterosklerosis, penyakit jantung koroner dan fungsi ventrikel kiri yang jelek. Pasien hipotiroidisme lanjut akan mengalami hipoterima dan kepekaan abnormal terhadap preparat sedative, opioid serta anestesi. Oleh sebab itu, semua obat ini hanya diberikan pada kondisi tertentu.
Pasien dengan hipotiroidisme yang belum teridentifikasi dan sedang menjalani pembedahan akan menghadapi risiko yang lebih tinggi untuk mengalami hipotensi intra-operatif, gagal jantung kongestif pascaoperatif dan perubahan status mental.
Koma miksedema menggambarkan stadium hipotiroidisme yang paling ekstrim dan berat, di mana pasien mengalami hipotermia dan tidak sadarkan diri. Koma miksedema dapat terjadi sesudah peningkatan letargi yang berlanjut menjadi stupor dan kemudian koma. Hipotiroidisme yang tidak terdiagnosis dapat dipacu oleh infeksi atau penyakit sistemik lainnya atau oleh penggunaan preparat sedative atau analgetik opioid. Dorongan respiratorik pasien akan terdepresi sehingga timbul hipoventilasi alveolar, retensi CO2 progresif, keadaan narcosis dan koma. Semua gejala ini, disertai dengan kolaps kardiovaskuler dan syok memerlukan terapi yang agresif dan intensif jika kita ingin pasien tetap hidup. Meskipun demikian, dengan terapi yang intensif sekalipun, angka mortalitasnya tetap tinggi. (Brunner & Suddarth. 2002)
2.1.6.      Pemeriksaan Penunjang
Ada beberapa pemeriksaan diagnostic yang dapat di lakukan, yaitu:
a)      Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan radiologi rangka menunjukkan tulang yang mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan, disgenesis epifisis, dan keterlambatan perkembangan gigi. Komplikasi utama dari hipotirodisme konginital dan hipotirodisme juvenilis yang tidak diketahui dan tidak diobati adalah retardasi mental. Keadaan ini dapat dicegah dengan memperbaiki hipotirodisme secara dini. Para ahli medis yang merawat bayi baru lahir dan bayyi kecil harus menyadari kemungkinan ini.
b)      Tes laboratotium
Tes laboratotium yang digunakan untuk memastikan hipotirodisme antara lain : kadar tiroksin dan triyodotironin serum yang rendah, BMR yang rendah dan peningkatan kolesterol serum. Kadar TSH serum makin tinggi mungkin pula rendah, tergantung pada jenis hipotirodisme. Pada hipotirodisme primer, kadar TSH serum akan tinggi, sedangkan kadar tiroksiin rendah. Sebaliknya, kedua penguukuran tersebut akan rendah pada pasien dengan hipotirodisme sekunder. (Price & Wilson. 1993)
2.1.7.      Penatalaksanaan
Tujuan primer penatalaksanaan hipotiridisme adalah memulihkan metabolisme pasien kembali kepada keadaan metabolic normal dengan cara mengganti hormon yang hilang. Levotiroksin sintetik (Syntroid atau Levothroid) merupakan preparat terpilih untuk pengobatan hipotiroidisme dan supresi penyakit  goiter nontoksik. Dosis terapi penggantian hormonal didasarkan pada konsentrasi TSH dalam serum pasien. Preparat tiroid yang dikeringkan jarang digunakan karena sering menyebabkan kenaikan sementara konsentrasi Tɜ dan kadang – kadang disertai dengan gejala hipertiroidisme. Jika terapi penggantian sudah memadai, gejala miksedema akan menghilang dan aktivitas metabolic yang normal dapat timbul kembali.
Pada hipotiridisme yang berat dan koma miksedema, penatalaksanaannya mencakup pemeliharaan berbagai fungsi vital. Gas darah arteri dapat di ukur untuk menentukan retensi karbon dioksida dan memandu pelaksanaan bantuan ventilasi untuk mengatasi hipoventilasi. Penggunaan alat pulse oximetry dapaat pula membantu kita untuk memantau tingkat saturasi oksigen. Pemberian cairan dilakukan dengan hati- hati karena bahaya intoksikasi air. Penggunaan panas eksternal (bantal pemanas) harus dihindari karena tindakan ini akan meningkatkan kebutuhan oksigen dan dapat menimbulkan kolaps vaskuler. Jika terdapat hipoglikemia yang nyata, infuse larutan glukosa pekat dapat dilakukan untuk memberikan glukosa tanpa menimbulkan kelebihan muatan cairan. Jika kondisi miksedema berlanjut menjadi komamiksedema, maka hormone tiroid (biasanya synthroid) diberikan secara intravena sampai kesadaran pasien pulih kembali. Kemudian pasien melanjutkan pengobatan dengan terapi hormone tiroid per oral. Karena disertai insufisiensi adrenokortikal, terapi kortikosteroid mungkin di perlukan.
Adapun penatalaksanaan lain yang berhubungan dengan hipotiroidisme, salah satunya adalah pada masalah kardiak. Setiap  pasien yang sudah menderita hipotiroidisme untuk waktu yang lama hamper dapat di pastikan akan   mengalami kenaikan kadar kolesterol, arterosklorosis dan penyakit arteri koroner. Setelah sekian lama metabolism berlangsung subnormal dan berbagai jaringan termasuk miokardium, memerlukan oksigen yang relative  sedikit, maka penurunan suplai darah dapat di tolerir tanpa terjadi gejala – gejala penyakit arteri koroner yang nyata. Namun demikian, bila hormone tiroid diberikan, maka kebutuhan oksigen akan meningkat tetapi pengangkutan oksigen tidak dapat di tingkatkan kecuali atau sampai keadaan aterosklorosis diperbaiki. Kedaan ini akan berlangsung sagat lambat. Timbulnya angina merupakan tanda yamg menunjukkan bahwa kebutuhan miokardium akan oksigen melampaui suplai darahnya. Serangan angina atau aritmia dapat terjadi ketika terapi penggantian tiroid di mulai karena hormone tiroid akan meningkatkan efek katekolamin pada sistem kardiovaskuler.
Adapun pertimbangan-pertimbangan yang harus di pertimbangkan sebelum proses terapi dilaksanakan, antara lain:
ü Pertimbangan terapi berdasarkan komplikasinya
Iskemia atau infark miokard dapat terjadi sebagai respons terhadap terapi pada penderita hipotiroidisme yang berat dan sudah berlangsung lama atau pada penderita koma miksedema.
Perawat harus waspada agar dapat mengenali dengan segera tanda – tanda angina, khususnya dalam fase awal terapi, dan jika tanda- tanda tersebut di temukan, keadaan ini harus segera di laporkan serta di tangani untuk menghindari infark miokard yang fatal. Dalam keadaan tersebut, pemberian hormone tiroid jelas harus segera di hentikan dan kemudian ketika terapi penggantian hormone tiroi sudah dapat dilanjutkan kembali dengan aman, pelaksanaannya harus sangat hati – hati dengan dosis yang lebih rendah dan di bawah pengawasan  ketat dokter seta perawat.
Interaksi obat. Tindakan penjagaan harus di lakukan selam pelaksanaan terapi tiroid karena adanya interaksi hormone tiroid dengan obat – obat lain. Hormone tiroid dapat meningkatkan kadar glukosa darah sehingga dosis pemberian insulin dan obat hipogllikemia oral perlu di sesuaikan. Efek hormone tiroid dapat di tingkatkan oleh fenitoin dan antidepresan trisiklik. Hormone tiroid juga dapatmeningkatkan efek farmaklogis  glikosida digitalis, antikoagulan dan indometasin sehingga memerlukan pengamatan dan pengkajian oleh perawat untuk mendeteksi efek samping preparat ini. Pengeroposan tulang dapt terjadi pada terapi tiroid. Hipotiroidisme berat yang tidak di tangani di tandai oleh peningkatan kerentanan terhadap semua obat golongan hipnotik-sedatif.
Obat – obat golongan hipnotik-sedatif. Yang diberikan dengan dosis kecil sekalipun dapat menimbulkan samnolen dan berlangsung lebih lama daripada yang diperkirakan. Lagi pula obat – obat ini  cenderung menyebabkan depresi respirasi yang dapat membawa kematian akibat penurunan cadangan respirasi dan hipoventilasi alveoler yangterjadi pada hipotiroidisme berat serta koma miksedema.
Golongan hipnotik – sedative jarang di gunakan pada hipotiridisme berat. Namun, jika pnggunaan preparat ini di perlukan, dosis pemberiannya harus setengah atau sepertiga dari dosis yangbiasa di resepkan bagi pasien – pasien dengan usia dan berat badan yang sama yang mempunyai fungsi tiroid normal. Jika penggunaan preparat ini sangat di butuhkan, keadaan pasien harus di pantau dengan ketat akan adanya tanda – tanda narcosis (keadaan mirip stupor) atau kegagalan pernafasan.


ü Pertimbangan Gerontologi
Sebagian besar penderita hipitiroidisme primer berusia 40 hingga 70 tahun dan biasanya di temukan mengalami hipotiroidisme ringan sampai sedang yang telah berjalan lama. 98 % hingga 99 % kasus hipotiroidisme pada individu berusia lanjut berupa hipotiroidisme primer atau tiroidial (Braverman & Utiger, 1991). Prevalansi hipotiroidisme yang tinggi pada manula berhubungan dengan perubahn fungsi imun yang menyertai pertambahan umur. Namun demikian, meskipun terdapat insidens disfungsi tiroid yang tinggi pada manula , insidens penyakit tiroid yang tidak terdiagnosis atau yang didiagnosis secara keliru jauh lebih besar pada manula ketimbang pada pasien – pasien yng lebih muda usianya (Sawin, 1991). Bahkan kecurigaan yang paling kecil sekalipun terhadap kemungkkinan hipotiroidisme pada lansia harus sudah merupakan indikasi untuk melakukan pemeriksaan TSH serum dan Tч.
Tanda – tanda dan gejala yang berubah. Tanda – tanda dan gejala hipotiroidisme sering tidak khas pada manula, pasien yang berusia lanjut mungkin tidak atau hanya sedikit yang menampakkan gejala sebelum disfungsi berat. Depresi , apati, penurunan mobilitas atau aktivitas dapat menjadi gejala awal yang penting. Pada semua penderita hipotiroidisme, pengaruh obat – obat analgesic , sedative dan anastesi akan berlangsung lebih lama, tindakan penjagaan khusus diperlukan dalam memberikan obat - obat ini kepada lansia karena sejumlah perubahan terjadi pula secara bersamaan pada fungsi hati dan ginjal.
Tindakan pencegahan. Pada pasien lansia yang mengalami hipotiroidisme ringan hingga sedang, terapi penggantian hormone tiroid harus di mulai dengan dosis yang rendah dan kemudian di tingkatkan secara perlahan- lahan sekali untuk mencegah efek samping kardiovaskuler dan neurologi yng serius. Sebagai contoh, serangan angina dapat terjadi akibat terapi penngantian hormone tiroid yang cepat disertai munculnya penyakit koroner sekunder akibat kondisi hipotiroid. Kegagalan jantung kongestif dan takiaritmia dapat bertambah buruk dalam proses peralihan dari status hipotiroid ke status metabolic yang normal. Demensia dapat menjadi lebih nyata di awal terapi penggantian hormone tiroid pada pasien yang berusia lanjut.
Lansia menderita hipotiroidisme barat dan aterosklorosis yang berusia lanjut juga dapat menunjukkan gejala konfusi serta agitasi jika laju metaboliknya di tingkatkan terlalu cepat pada miksedema. Perbaikan klinik yang mencolok akan terjadi setelah pemberian preparat hormon tiroid, pengobatan ini harus di lakukan terus seumur hidup meskipun tanda - tanda  hipotiroidisme akan menghilang dalam tempo 3 hingga 12 minggu.
Miksedema dan koma miksedema umumnya hanya terjadi pada pasien dengan usia lebih dari 50 tahun. Angka mortalitas yng tinggi pada koma miksedema mengharuskan dilakukannya penyuntikan intravena hormone tiroid dosis tinggi selain perawatan pendukung lainnya.
Perawatan tindak lanjut. Pemantauan tindak lanjut  yang dilakukan secara berkala terhadap kadar TSH serum perlu di anjurkan. Karena dapat terjadi komplikasi terapi yang buruk atau karena kesalahan pasien dalam menggunakan obatnya, maka anamnesis yang cermat terhadap riwayat penyakit akan dapat mengenali kebutuhan pendidikan lebih lanjut mengenai pentingnya pengobatan. Berdasarkan prevalansi hipotiroidisme, pemeriksaan kadar TSH serum pada lansia dianjurkan untuk dilakukan setiap 5 tahun sekali (Sawin, 1991)
Adapun rencana-rencana Penatalaksanaan Keperawatan, sebagai berikut:
a)    Modifikasi aktifitas
Penderita hipotiroidisme akan mengalami pengurangan tenaga dan letargi sedang hingga berat. Sebagai akibatnya, resiko komplikasi akibat imobilitas akan meningkat. Kemampuan pasien untuk melakukan latihan dan berperan dalam berbagai aktivitas menjadi terbatas akibat perubahan pada status kardiovaskuler dan pulmoner yang terjadi akibat hipotiroidisme. Peranan perawat yang penting adalah membantu perawatan dan kebersihan diri pasien sambil mendorong partisipasi pasien untuk melakukan aktivitas yang masih berada dalam batas – batas toleransi yang di tetapkan untuk mencegah komplikasi imobilitas.
b)   Pemantauan yang berkelanjutan
Pemantauan tanda – tanda vital dan tingkat kognitif pasien dilakukan dengan ketat selama proses penegakan diagnosis dan awal terapi untuk mendeteksi :
1)      Kemunduran status fisik serta mental
2)      Tanda – tanda serta gejala yang menunjukkan peningkatan laju metabolik akibat terapi yamg melampaui kemampuan reaksi sistem kardiovaskuler dan pernafasan
3)      Keterbatasan atau komplikasi miksedema yang berkelanjutan.
Obat – obat harus di berikan dengan sangat hati- hati kepada pasien hipotiroidisme meningat adanya perubahan metabolism serta ekskresi obat, dan penurunan laju metabolic serta status pernafasan
c)    Pengaturan suhu
Pasien sering mengalami gejala menggigil dan menderita intoleransi yang ekstrim terhadap hawa dingin meskipun ia berada dalam ruangan bersuhu nyaman atau panas. Ekstra pakaian dan selimut dapat di beriakan, dan pasien harus di lindungi terhadap hembusan angin. Jika pasien ingin mennggunakan bantal panas atau selimut listrik untuk mengurangi gangguan rasa nyaman dan gejala menggigil tersebut, perawat harus menjelaskan bahwa penggunaan alat iniharus di hindari karena berisiko menyebabkan vasodilatasi perifer, kehilangan panas tubuh yang lebih lanjut dan kolaps vaskuler. Di samping itu, pasien tanpa sadar dapat terbakar ketika mennggunakan alat –alat tersebut akibat respons pasien yang lambat dan status mental yang menurun.
d)   Dukungan emosional
Penderita hipotiroidisme sedang hingga berat dapat mengalami reaksi emosional hebat terhadap perubahan penampilan serta citra tubuhnya dan terhadap terlambatnya diagnosis, yamg sering di jumpai pada penyakt ini. Gejala dini nonspesifik dapat menimbulkan reaksi negative dari anggota keluarga serta sahabat dan pasien mungkin di anggap sebagai individu yang mentalnya lebih, tidak kooperatif atau tidak mau berpartisipasi dalam aktivitas perawatan kurang mandiri.
e)    Pendidikan pasien dan pertimbangan perawatan di rumah
Pasien dan keluarganya sering sangat prihatin terhadap perubahan yang mereka saksiakn akibat hipotiroid. Sering kita harus menenteramkan  kembali pasien dan keluarganya dengan penjelasan bahwa banyak di antara gejala – gejala tersebut akan menghilang  setelah terapi berhasil di lakukan. Pasien di beri tahu untuk terus minum obat seperti yang diresepkan dokter meskipun gejal sudah membaik. Instruksi tentang diet diberikan untuk meningkatkan penurunan berat badan begitu pengobatan di mulai, untuk mempercepat pemulihan pola defekasi normal. Akibat pelambatan proses mental pada hipotiroidisme, maka anggota keluarga harus di beri tahu dan di jelaskan tentang tujuan terapi, program pengobatan serta efek samping yang harus dilaporkan kepada dokter. Selain itu, semua instruksi dan pedoman ini harus disampaikan pula secara tertulis kepada pasien, keluarga dan perawat kunjungan rumah.
Penderita hipotiroidisme dan koma miksedema yang biasanya merupakan wanita lanjut usia, memerlukan tindak lanjut penyuluhan dan perawatan kesehatan. Sebelum keluar dari rumah sakit,beberapa program harus di lakukan untuk memastikan bahwa pasien akan kembali kesuatu lingkungan yang akan meningkatkan kepatuhannya terhadap rencana terapi yang di resepkan dokter. Pasien memerlukan dorongan dan bantuan dalam penggunaan obat setiap hari. Bantuan dalam menyusun jadwal atau catatan akan memastikan penggunaan obat yang akurat dan lengkap. Pentingnya terapi penggantian hormone tiroid yang berkelnjutan dan pemeriksaan tindak lanjut serta periodic harus di tekankan kembali, dan pasien serta anggota keluarganya  perlu di ajarkan untuk mengetahui tanda- tanda pengobatan yang berlebihan (overmedikasi) dan yang kekurangan (undermedikasi).
Jika diperlukan, rujukan kepada perawat yang akan melakukan perawatan di rumah dapat di atur untuk mengkaji kepulihan pasien dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai perubahan yang baru terjadi. Perawat di rumah melakukan pengkajian terhadap status fisik dan kognitif pasien , pemahaman pasien serta keluarganya terhadap pentingnya pengobatan jangka panjang seperti yang di resepkan, dan kepatuhan pada jadwal pengobatan, pemeriksaan tindak anjut sreta kunjungan untuk control seperti yang di rekomendasikan. Tanda – tanda dan gejala yang samar tetapi dapat menunjukkan apakah pemberian hormone tiroksin kurang memadai ataukah berlebihan harus di catat atau di laporkan kepda dokter atau petugas kesehatan yang memberikan pelayanan primer. (Brunner & Suddarth. 2002)
2.1.8.      Komplikasi

2.2.  Konsep Asuhan Keperawatan
2.2.1. Pengkajian
a.    Data Biografi
1.    Identitas pasien.
Identitas  pasien  meliputi:
·         Nama pasien
·         Umur               : paling sering terjadi pada usia antara 30 sampai 60 tahun.
·         Jenis kelamin   : menyerang wanita lima kali lebih sering daripada laki-laki.
·         Pekerjaan
·         Agama
·         Suku / bangsa
·         Alamat
2.    Identitas Penanggung Jawab. Identitas penanggung jawab meliputi Nama, Umur, Jenis kelamin, alamat dan hubungan dengan pasien.
b.   Riwayat Kesehatan
1)   Keluhan utama : cepat lelah saat beraktivitas
2)   Riwayat Kesehatan Sekarang
Peningkatan laju metabolik basal, kelelahan dan letargi, kepekaan terhadap dingin, dan gangguan menstruasi yang dapat memicu miksedema nyata.
3)   Riwayat penyakit dahulu
Pernah ke dokter karena sering mengalami kelelahan dan penambahan berat badan selama beberapa bulan terakhir. Dokter meminta pemeriksaan laboratorium yang tepat, yaitu kadar T4 dan TSH. Dari hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan bahwa kadar T4 rendah dan kadar TSH tinggi.
4)   Riwayat kesehatan keluarga
Tidak semua keluarga mengalami karena bukan merupakan penyakit keturunan.
c.    Kebutuhan Bio – Psiko – Sosial – Spiritual
1)      Pernafasan :
·         Frekuensi pernapasan meningkat, takipnea, dispnea, apnea saat tidur dapat terjadi pada hipotiroidisme berat.
2)      Kebutuhan nutrisi
·         Mengalami kenaikan berat badan
·         Tidak ada peningkatan asupan makanan, kehausan
·         mual dan muntah
·         Asupan dan keluaran setiap 8 jam
3)      Kebutuhan eliminasi
·         Mengalami konstipasi dan poliuria
4)      Kebutuhan istirahat tidur
·         Pasien biasanya mengalami insomnia
5)      Kebutuhan aktifitas latihan
·         sensitivitas meningkat, otot lemah, gangguan koordinasi.
·         Kelelahan berat.
6)      Kebutuhan aman nyaman
·         Adanya ketidaknyamanan (nyeri tulang), lemah, parastesia.
7)      Kebutuhan seksual dan reproduksi
·         Gangguan haid seperti menoraghia atau amenore akan terjadi disamping hilangnya libido.
8)      Kebutuhan psikologi
·         Ansietas, mudah tersinggung, demensia, perubahan kognitif dan kepribadian yang khas.  
9)      Integritas ego
·         Mengalami stress yang berat baik emosional maupun fisik
10)  Kebutuhan social
·         Hubungan pasien dengan keluarga, tetangga, tim medis, dan juga dengan pasien lain
11)  Kebutuhan spiritual
·         Rutinitas dalam beribadah, kebutuhan akan rohaniawan.
d.   Pemeriksaan Fisik
1)   Keadaan umum : lemah dan kelelahan
·         Kesadaran : apatis
·         Ekspresi wajah : wajah tampak tanpa ekspresi dan mirip topeng.
2)   Pemeriksaan tanda-tanda vital
·         Suhu : suhu tubuh subnormal
·         Nadi : frekuensi nadi subnormal
·         RR : Frekuensi pernapasan meningkat, takipnea, dispnea, apnea
saat tidur dapat terjadi pada hipotiroidisme berat.
·         TD : hipotensi
·         BB : meningkat tanpa peningkatan asupan makanan
3)   Head to toes
Ø Pemeriksaan kepala dan leher
a)      Leher     : Adanya perubahan ukuran dan bentuk pada leher. Adanya nyeri telan. Adanya perubahan pada suara.
b)      Kepala   : Struktur wajah simetris dan tidak ada pembengkakan.
c)      Mata      : Visus normal, alis dan bulu mata tipis/jarang, tidak ada gangguan pada konjungtiva, sklera, kornea, dan pupil.
d)     Telinga   : ketulian dapat terjadi
e)      Hidung dan mulut : Tidak ada polip, adanya trismus (kesukaran membuka mulut), radang pada bibir, gusi, lidah akibat dehidrasi yang dialami. Lidah membesar. Adanya kesusahan saat menelan akibat radang pada faring dan laring. Adanya keterlambatan dalam berbicara.
Ø Pemeriksaan integumen
a)      Rambut  : adanya kerontokan rambut sehingga menyebabkan rambut menjadi tipis dan jarang.
b)      Kulit      : Kulit kasar, kering dan bersisik. Warna kulit pucat. Kulit menjadi tebal karena penumpukan mukopolisakarida dalam jaringan subkutan.
c)      Kuku     : Kuku menjadi tipis dan rapuh
d)     Kelenjar getah bening :
4)   Dada
Ø Bentuk dada simetris
Ø Jantung  : denyut jantung meningkat,
Ø Paru       : kelemahan otot pernafasan, Frekuensi pernapasan meningkat, takipnea, dispnea, apnea saat tidur dapat terjadi pada hipotiroidisme berat. Stridor laring, bronkospasme.
5)   Abdomen
Ø Nausea, vomitus, nyeri abdomen
6)   Pemeriksaan anggota gerak (ekstermitas)
Ø Ekstremitas atas  :  keluhan rasa baal serta parestesia pada jari-jari tangan. Ukuran tangan bertambah besar.
Ø Ekstremitas bawah :  ukuran kaki bertambah besar.
2.2.2. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan (Brunner & Suddarth. 2002)

1.      Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan penurunan proses kognitif.
2.      Tujuan: Meningkatkan partisipasi dalam aktivitas dan kemandirian
3.      Intervensi:
a)      Atur interval waktu antar aktivitas untuk meningkatkan istirahat dan latihan yang dapat ditelerir.
Rasional: Mendorong aktivitas sambil memberikan kesempatan untuk mendapatkan istirahat yang adekuat.
b)      Bantu aktivitas perawatan mandiri ketika pasien berada dalam keadaan lelah.
Rasional: Memberi kesempatan pada pasien untuk berpartisipasi dalam aktivitas perawatan mandiri.
c)      Berikan stimulasi melalui percakapan dan aktifitas yang tidak menimbulkan stress.
Rasional: Meningkatkan perhatian tanpa terlalu menimbulkan stress pada pasien.
d)     Pantau respons pasien terhadap peningkatan aktititas
Rasional: Menjaga pasien agar tidak melakukan aktivitas yang berlebihan atau kurang.
2.      Perubahan suhu tubuh
4.      Tujuan: Pemeliharaan suhu tubuh yang normal
5.      Intervensi:
a)      Berikan tambahan lapisan pakaian atau tambahan selimut.
Rasional: Meminimalkan kehilangan panas
b)      Hindari dan cegah penggunaan sumber panas dari luar (misalnya, bantal pemanas, selimut listrik atau penghangat).
Rasional: Mengurangi risiko vasodilatasi perifer dan kolaps vaskuler.
c)      Pantau suhu tubuh pasien dan melaporkan penurunannya dari nilai dasar suhu normal pasien.
Rasional: Mendeteksi penurunan suhu tubuh dan dimulainya koma miksedema
d)     Lindungi terhadap pajanan hawa. dingin dan hembusan angin.
Rasional: Meningkatkan tingkat kenyamanan pasien dan menurunkan lebih lanjut kehilangan panas.

3.      Konstipasi berhubungan dengan penurunan gastrointestinal
6.      Tujuan: Pemulihan fungsi usus yang normal.
7.      Intervensi:
a)      Dorong peningkatan asupan cairan
Rasional: Meminimalkan kehilangan panas
b)      Berikan makanan yang kaya akan serat
Rasional: Meningkatkan massa feses dan frekuensi buang air besar
c)      Ajarkan kepada klien, tentang jenis -jenis makanan yang banyak mengandung air
Rasional: Untuk peningkatan asupan cairan kepada pasien agar feses tidak keras
d)     Pantau fungsi usus
Rasional: Memungkinkan deteksi konstipasi dan pemulihan kepada pola defekasi yang normal.
e)      Dorong klien untuk meningkatkan mobilisasi dalam batas-batas toleransi latihan.
Rasional: Meningkatkan evakuasi feses
f)       Kolaborasi: untuk pemberian obat pecahar dan enema bila diperlukan
Rasional: Untuk mengencerkan fees.
4.      Kurangnya pengetahuan tentang program pengobatan untuk terapi penggantian tiroid seumur hidup
8.      Tujuan: Pemahaman dan penerimaan terhadap program pengobatan yang diresepkan.
9.      Intervensi
a)      Jelaskan dasar pemikiran untuk terapi penggantian hormon tiroid.
Rasional: Memberikan rasional penggunaan terapi penggantian hormon tiroid seperti yang diresepkan, kepada pasien
b)      Uraikan efek pengobatan yang dikehendaki pada pasien
Rasional: Mendorong pasien untuk mengenali perbaikan status fisik dan kesehatan yang akan terjadi pada terapi hormon tiroid.
c)      Bantu pasien menyusun jadwal dan cheklist untuk memastikan pelaksanaan sendiri terapi penggantian hormon tiroid.
Rasional: Memastikan bahwa obat yang; digunakan seperti yang diresepkan.
d)     Uraikan tanda-tanda dan gejala pemberian obat dengan dosis yang berlebihan dan kurang.
Rasional: Berfungsi sebagai pengecekan bagi pasien untuk menentukan apakah tujuan terapi terpenuhi.
e)      Jelaskan perlunya tindak lanjut jangka panjang kepada pasien dan keluarganya.
Rasional: Meningkatkan kemungkinan bahwa keadaan hipo atau hipertiroidisme akan dapat dideteksi dan diobati.
5.      Pola napas tidak efektif berhubungan dengan depresi ventilasi
10.  Tujuan: Perbaikan status respiratorius dan pemeliharaan pola napas yang normal.
11.  Intervensi:
a)      Pantau frekuensi; kedalaman, pola pernapasan; oksimetri denyut nadi dan gas darah arterial
Rasional: Mengidentifikasi hasil pemeriksaan dasar untuk memantau perubahan selanjutnya dan mengevaluasi efektifitas intervensi.
b)      Dorong pasien untuk napas dalam dan batuk
Rasional: Mencegah aktifitas dan meningkatkan pernapasan yang adekuat.
c)      Berikan obat (hipnotik dan sedatip) dengan hati-hati
Rasional: Pasien hipotiroidisme sangat rentan terhadap gangguan pernapasan akibat gangguan obat golongan hipnotik-sedatif.
d)     Pelihara saluran napas pasien dengan melakukan pengisapan dan dukungan ventilasi jika diperlukan.
Rasional: Penggunaan saluran napas artifisial dan dukungan ventilasi mungkin diperlukan jika terjadi depresi pernapasan
6.      Perubahan pola berpikir berhubungan dengan gangguan metabolisme dan perubahan status kardiovaskuler serta pernapasan.
12.  Tujuan: Perbaikan proses berpikir.
13.  Intervensi:
a)      Orientasikan pasien terhadap waktu, tempat, tanggal dan kejadian disekitar dirinya.
b)      Berikan stimulasi lewat percakapan dan aktifitas yang, tidak bersifat mengancam.
Rasional: Memudahkan stimulasi dalam batas-batas toleransi pasien terhadap stres.
c)      Jelaskan kepada pasien dan keluarga bahwa perubahan pada fungsi kognitif dan mental merupakan akibat dan proses penyakit.
Rasional: Meyakinkan pasien dan keluarga tentang penyebab perubahan kognitif dan bahwa hasil akhir yang positif dimungkinkan jika dilakukan terapi yang tepat
7.      Miksedema dan koma miksedema
14.  Tujuan: Tidak ada komplikasi.
15.  Intervensi:
a)      Pantau pasien akan; adanya peningkatan keparahan tanda dan gejala hipertiroidisme.
1)      Penurunan tingkat kesadaran; demensia
2)      Penurunan tanda-tanda vital (tekanan darah, frekuensi
3)      pernapasan, suhu tubuh, denyut nadi)
4)      Peningkatan kesulitan dalam membangunkan dan menyadarkan pasien.
Rasional: Hipotiroidisme berat jika tidak: ditangani akan menyebabkan miksedema, koma miksedema dan pelambatan seluruh sistem tubuh
b)      Dukung dengan ventilasi jika terjadi depresi dalam kegagalan pernapasan
Rasional: Dukungan ventilasi diperlukan untuk mempertahankan oksigenasi yang adekuat dan pemeliharaan saluran napas.
c)      Berikan obat (misalnya, hormon tiroksin) seperti yang diresepkan dengan sangat hati-hati.
Rasional: Metabolisme yang lambat dan aterosklerosis pada miksedema dapat mengakibatkan serangan angina pada saat pemberian tiroksin
d)     Balik dan ubah posisi tubuh pasien dengan interval waktu tertentu.
Rasional: Meminimalkan resiko yang berkaitan dengan imobilitas.
e)      Hindari penggunaan obat-obat golongan hipnotik, sedatif dan analgetik.
Rasional: Perubahan pada metabolisme obat-obat ini sangat meningkatkan risiko jika diberikan pada keadaan miksedema



BAB III
PENUTUP
3.1.Simpulan
Ø  Hipotiroidisme merupakan keadaan yang di tandai dengan terjadinya hipofungsi tiroid yang berjalan lambat dan diikuti oleh gejala-gejala kegagalan tiroid. Keadaan ini terjadi akibat kadar hormon tiroid berada di bawah nilai optimal. (brunner & suddarth. 2002)
Ø  Hipotiroidisme terdiri dari beberapa tipe. Berdasarkan lokasi timbulnya masalah, hipotiroidisme diklasifikasikan menjadi primer dan sekunder. Berdasarkan usia awitannya, diklasifikasikan menjadi hipoteroidisme dewasa atau miksedema, hipotiroidisme juvenilis dan hipotirodisme konginetal.
Ø  Hipotiroidisme dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau hipotalamus
Ø  Gejala dini hipotoroidisme tidak spesifik, namun kelemahan yang ekstrim menyulitkan penderitanya untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari secara penuh atau ikut serta dalam aktifitas yang lazim dilakukannya.
Ø  Hipotiroidisme berat mengakibatkan suhu tubuh dan frekuensi nadi subnormal.
Ø  Beberapa pemeriksaan diagnostik hipotiroidisme yang dilakukan, yaitu pemeriksaan radiologi dan tes laboratorium.
Ø  Pada hipotiridisme yang berat dan koma miksedema, penatalaksanaannya mencakup pemeliharaan berbagai fungsi vital.
Ø  Dalam melakukan penatalaksanaan, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, yaitu terapi berdasarkan komplikasinya (interaksi obat, obat-obat golongan hipnotik-sedatif) dan gerontologi atau berdasarkan usia (tanda-tanda gejala yang berubah dan tindakan pencegahannya serta perawatan tindak lanjut yang dilakukan)



3.2.Saran
Kita sebagai calon perawat harus mampu menguasai materi tentang gangguan pada sistem endokrin seperti hipotiroidisme agar kita mengaplikasikannya dan memberikan pelayanan secara optimal pada masyarakat.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;