Selasa, 02 Juli 2013

ASUHAN KEPERAWATAN BATU URETRA



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.       LATAR BELAKANG
Manusia, seperti makhluk hidup lainnya, berusaha untuk mempertahankan homeostasis, yang berarti keseimbangan. Otak dan organ tubuh lainnya bekerjasama untuk mengatur suhu tubuh, keasaman darah, ketersediaan oksigen danvariabel lainnya. Mengingat bahwa organisme hidup harus mengambil nutrisi danair, satu fungsi homeostatis penting adalah eliminasi, atau kemampuan untuk mengeluarkan bahan kimia dan cairan, sehingga dapat menjaga keseimbangan internal. Sistem kemih memainkan peran ekskretoris dan homeostatik penting. Kelangsungan hidup dan berfungsinya sel secara normal bergantung pada pemeliharaan kosentrasi garam, asam, dan elektrolit lain di lingkungan cairan internal. Kelangsungan hidup sel juga bergantung pada pengeluaran secara terus menerus zat-zat sisa metabolism toksik dan dihasilkan oleh sel pada saat melakukan berbagai reaksi semi kelangsungan hidupnya. Traktus urinarius merupakan system yang terdiri dari organ-organ dan struktur-struktur yang menyalurkan urin dari ginjal ke luar tubuh. Ginjal berperan penting mempertahankan homeostasis dengan mengatur konsentrasi banyak konstituen plasma, terutama elektrolit dan air dan dengan mengeliminasi semuazat sisa metabolisme. Sistem urin adalah bagian penting dari tubuh manusia yang terutama bertanggung jawab untuk menyeimbangkan air dan elektrolit tertentu sepertikalium dan natrium, membantu mengatur tekanan darah dan melepaskan produk limbah yang disebut urea dari darah.
Sistem kemih terdiri terutama pada ginjal, yang menyaring darah, sedangkan ureter, yang bergerak urin dari ginjal ke kandung kemih, kandung kemih, yang menyimpan urin, dan saluran kencing, urin keluar melalui tubuh. Peran dari sistem urin dengan yang biasa bagi kebanyakan orang adalah bahwa ekskresi; melalui air seni, manusia membebaskan diri dari air tambahan dan bahan kimia dari aliran darah. Aspek penting lain dari sistem urin adalah kemampuannya untuk membedakan antara senyawa dalam darah yang bermanfaat untuk tubuh dan harus di jaga, seperti gula, dan senyawa dalam darah yang beracun dan harus dihilangkan.
1.2.    TUJUAN
Berdasarkan latar belakang di atas, adapun yang menjadi tujuan penulisan dari makalah ini ialah sebagai berikut :
1.2.1.   Tujuan Umum
Dengan adanya makalah asuhan keperawatan ini diharapkan mahasiswa dapat memahami serta mampu menjelaskan tentang konsep penyakit batu uretra serta asuhan keperawatan   batu uretra.
1.2.2.   Tujuan Khusus
a.    Agar mahasiswa mampu  mengetahui definisi dari batu uretra.
b.    Agar mahasiswa mampu memahami anatomi dari uretra.
c.    Agar mahasiswa mampu mengetahui etiologi serta patofisiologi dari batu uretra.
d.   Agar mahasiswa mampu mengidentifikasi manifestasi klinis dari batu uretra.
e.    Agar mahasiswa mampu menjelaskan tentang penatalaksanaan dari batu uretra.
f.     Agar mahasiswa mampu menyebutkan komplikasi dari batu uretra.
g.    Agar mahasiswa mampu memahami serta mampu melakukan pengkajian batu uretra.
h.    Agar mahasiswa mampu memahami serta mampu merumuskan diagnose keperawatan batu uretra.
i.      Agar mahasiswa mampu memahami serta mampu membuat intervensi batu uretra.
j.      Agar mahasiswa mampu memahami serta mampu melakukan evaluasi terhadap pasien batu uretra.
1.3.    Manfaat Penulisan
1.   Bagi Penulis
Setelah menyelesaikan makalah ini diharapkan kami sebagai mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai penyebab serta upaya pencegahan penyakit Batu Uretra  agar terciptanya kesehatan masyarakat yang lebih baik.
2.   Bagi Pembaca
Diharapkan agar pembaca dapat mengetahui tentang Batu Uretra lebih dalam sehingga dapat mencegah serta mengantisipasi diri dari penyakit Batu Uretra.
3.   Bagi Petugas Kesehatan
Diharapkan dapat menambah wawasan dan informasi dalam penanganan Batu Uretra sehingga dapat meningkatkan pelayanan keperawatan yang baik.
4.   Bagi Institusi Pendidikan
Dapat menambah informasi tentang Batu Uretra serta dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini.
BAB II
KERANGKA KONSEP
2.1.    Laporan Pendahuluan
2.1.1. ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PERKEMIHAN (URETRA)
Sistem perkemihan merupakan suatu sistem dimana terjdinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh larut dlam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).
http://ilper.files.wordpress.com/2012/04/urin1.jpg?w=346&h=200
Gambar : Sistem Urinaria pada laki-laki dan Perempuan
                              Bagian-bagian sistem perkemihan adalah :
1. Ginjal
Posisi anatomi ginjal kiri lebih tinggi dari ginjal kanan, yang normalnya tepat pada iga ke 12. Yang berfungsi sebagai pembentuk urine. Ukuran setiap ginjal orang dewasa adalah panjang 10 cm; 5,5 cm pada sisi lebar ; dan 3 cm pada sisi sempit dengan berat setiap ginjal berkisar 150 g. (Arif Muttaqin : 2008).
2. Ureter
Ureter merupakan bagian dari saluran perkemihan yang berbentuk tabung kecil yang berfungsi mengalirkan urine dari pilum ginjal ke dalam kandung kemih. Pada orang dewasa, panjangnya kurang lebih 20 cm. (Arif Muttaqin : 2008)
2.    Kandung Kemih


 







Kandung Kemih atau Vesika Urinaria berfungsi menampung urine dari ureter dan kemudiannya mengeluarkannya melalui uretra dalam mekanisme miksi (berkemih). (Arif Muttaqin : 2008)



4. Uretra
a). Definisi
Uretra merupakan saluran yang membawa urine keluar dari vesica urinaria menuju lingkungan luar. Terdapat beberapa perbedaan uretra pada pria dan wanita. Uretra pada pria memiliki panjang sekitar 20 cm dan juga berfungsi sebagai organ seksual (berhubungan dengan kelenjar prostat), sedangkan uretra pada wanita panjangnya sekitar 4 cm dan diameter lubangnya adalah 6 mm. Selain itu, pria memiliki dua otot sphincter yaitu m.sphincter interna (otot polos terusan dari m.detrusor dan bersifat involunter) dan m.sphincter externa (di uretra pars membranosa, bersifat volunter), sedangkan pada wanita hanya memiliki m.sphincter externa (distal inferior dari kandung kemih dan bersifat volunter). (Anatomi dan Fisiologi, Sylvia Verralls : 1997).








Gambar : Uretra pada Laki-laki



 








Gambar : Uretra pada perempuan
Pada pria, uretra dapat dibagi atas pars pre-prostatika, pars prostatika, pars membranosa dan pars spongiosa yaitu :
1.      Pars pre-prostatika (1-1.5 cm), merupakan bagian dari collum vesicae dan aspek superior kelenjar prostat. Pars pre-prostatika dikelilingi otot m. sphincter urethrae internal yang berlanjut dengan kapsul kelenjar prostat. Bagian ini disuplai oleh persarafan simpatis.
2.      Pars prostatika (3-4 cm), merupakan bagian yang melewati/menembus kelenjar prostat. Bagian ini dapat lebih dapat berdilatasi/melebar dibanding bagian lainnya.
3.      Pars membranosa (12-19 mm), merupakan bagian yang terpendek dan tersempit. Bagian ini menghubungkan dari prostat menuju bulbus penis melintasi diafragma urogenital. Diliputi otot polos dan di luarnya oleh m.sphincter urethrae eksternal yang berada di bawah kendali volunter (somatis).
4.      Pars spongiosa (15 cm), merupakan bagian uretra paling panjang, membentang dari pars membranosa sampai orifisium di ujung kelenjar penis. Bagian ini dilapisi oleh korpus spongiosum di bagian luarnya.
b). Struktur Makroskopis Uretra



Gambar : Struktur Makroskopis Uretra
1.   Meatus Internus : terletak pada perbatasan antara uretra dan vesika urinaria.
2.   Meatus Externus : ostium uretra yang bermuara ke dalam vestibulum. Meatus Externus ini terletak kira-kira 2,5 cm di bawah klitoris.
3.   Kripta Uretra : merupakan salauran buntu yang merupakan lubang dari dinding uretra.
4.   Duktus Skene : merupakan saluran yang paling bawah yang bermuara pada vestibulum.
c). Fungsi Uretra
1.   Uretra berfungsi sebagai saluran yang dilalui oleh urine untuk di keluarkan dari tubuh.
2.   Saluran uretra juga penting dalam proses ejakulasi semen dari saluran reproduksi pria.
2.1.2.   Definisi Penyakit Batu Uretra
Batu Uretra adalah batu yang terdapat disaluran uretra, umumnya merupakan batu sekunder karena tidak terbentuk di uretra. Batu berasal dari saluran proksimal uretra, baik vesika urinaria, ureter maupun ginjal yang kemudian turun sampai ke uretra. Batu primer jarang terbentuk  di uretra, kecuali terdapat divertikula di uretra.
2.1.3.   Etiologi
1.   Infeksi : disebabkan karena kelainan-kelainan pada kelenjar prostat.
2.   Trauma internal atau external pada uretra.
3.   Kelainan bawaan.
2.1.4.   Gejala
Biasanya pasien datang dengan keluhan sulit kencing atau tidak dapat kencing sama sekali yang mendadak (retensi urin, bedakan dengan retensi urin karena BPH). Hal ini diakibatkan karena tersumbatnya saluran uretra. (Nursalam : 2011)
2.1.5.   Patofisiologi
Lesi pada epitel uretra atau putusnya jaringaan / kontinuitas, baik oleh proses infeksi maupun akibat trauma akan menimbulkan terjadinya reaksi peradangan. Iritasi dari urine pada uretra akan mengundang reaksi fibroblastik yang berkelanjutan dan proses fibrosis semakin menghebat sehingga terjadilah penyempitan bahkan penyumbatan dari lumen uretra serta aliran urine mengalami hambatan dengan segala akibatnya. (Nursalam : 2011).

2.1.6.   Penatalaksanaan
 Batu uretra harus dilakukan operasi segera agar tidak terjadi retensi urin terlalu lama sehingga tidak menimbulkan penurunan fungsi ginjal. Untuk batu yang terdapat diujung uretra bisa dilakukan dengan meatotomi. Dan untuk batu primer yang terbentuk karena terdapat divertikel, sebaknya dilakukan diverkulectomi untuk menghindari batu residif.















2.2.   KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PERKEMIHAN BATU URETRA
2.2.1. Pengkajian
Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang klien, agar dapat mengidentifikasi, mengenali masalah-masalah, kebutuhan kesehatan dan keperawatan klien, baik fisik, mental, social, dan lingkungan.
a. Data Biografi
1.   Identitas pasien.
Identitas  pasien  meliputi:
·      Nama pasien
·      Umur               : paling sering terjadi pada usia antara 30-60 tahun.
·      Jenis kelamin   :  menyerang laki-laki tiga kali lebih sering daripada wanita.
·      Pekerjaan         : penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktivitas fisik (sedentary life).
·      Agama
·      Suku / bangsa
·      Alamat
·      Tanggal MRS
·      Diagnosa Medis : batu uretra.
2.   Identitas Penanggung Jawab
Identitas penanggung jawab meliputi Nama, Umur, Jenis kelamin, alamat dan hubungan dengan pasien.
b. Riwayat Penyakit
1. Keluhan Utama :   sulit kencing atau tidak dapat kencing sama sekali yang mendadak (retensi urine). Keluhan lainnya biasanya adalah berhubungan dengan gejala iritasi dan infeksi seperti penis yang membengkak.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Tanyakan tentang factor yang melatar belakangi atau hal-hal yang mempengaruhi atau mendahului keluhan, bagaimana sifat terjadinya, bagaimana gejalanya (mendadak, perlahan-lahan, terus-menerus, berupa serangan, hilang timbul, atau berhubungan dengan waktu), lokasi terjadinya gejala dan sifatnya (menjalar, menyebar, berpindah-pindah atau menetap), berat ringannya keluhan dan perkembangannya (apakah menetap, cenderung bertambah atau berkurang), lamanya keluhan berlangsung, kapan dimulainya, dan upaya apa yang telah dilakukan.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Tanyakan tentang :
·      Riwayat pemakaian obat : apa jenisnya, berapa dosisnya, berapa dosis terakhirnya, dan bagaimana cara pemakaiannya.
·      Riwayat atau pengalaman masa lalu tentang kesehatan atau penyakit yang pernah di alami, riwayat masuk rumah sakit, atau riwayat kecelakaan.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Tanyakan tentang riwayat kesehatan atau keperawatan yang dimiliki oleh salah satu anggota keluarga, apakah ada penyakit seperti yang dialami pasien, apakah mempunyai penyakit keturunan.
5. Riwayat Penyakit Lingkungan
Tanyakan tentang keadaan lingkungan di rumah. Apakah rumah yang di tempati cukup memadai dalam segi kesehatan (ventilasi yang cukup, kondisi kamar tidur, apakah ada tempat pembuangan kotoran atau sampah). 
c. Kebutuhan Bio – Psiko – Sosial – Spiritual
1)      Pernafasan :
Biasanya tidak terjadi gangguan pernafasan, karena batu uretra terdapat di uretra yang termasuk dalam system perkemihan, tidak melewati atau memasuki saluran peernafasan.
2)      Kebutuhan nutrisi
·      Mengalami anoreksia
·      Mual-muntah
3)      Kebutuhan eliminasi
·      Mengalami retensi urin
4)      Kebutuhan istirahat tidur
·      Pasien biasanya sulit tidur
5)      Kebutuhan aktifitas latihan
·      Aktivitas terganggu karena nyeri
6)      Kebutuhan aman nyaman
·      Adanya ketidaknyamanan (nyeri akut), nyeri saat miksi
·      Pengkajian PQRST yang biasanya dirasakan klien dengan batu uretera:
P : Nyeri terasa di daerah punggung, pinggang bahkan uretera.
Q : Nyeri seperti di tusuk-tusuk
R : Nyeri akut, hilang timbul
S : Nyeri skala 4-5
T : nyeri bertambah saat beraktifitas, secara tiba-tiba saat miksi
7)      Kebutuhan seksual dan reproduksi
·      Adanya gangguan karena adanya penyebaran nyeri ke area paha dan genitalia.
8)      Kebutuhan psikologi
·      Ansietas karenakurang informasi.  
9)      Integritas ego
·      Mengalami stress baik emosional maupun fisik

10)  Kebutuhan social
·      Hubungan pasien dengan keluarga, tetangga, tim medis, dan juga dengan pasien lain
11)  Kebutuhan spiritual
·      Rutinitas dalam beribadah, kebutuhan akan rohaniawan.
d. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dengan palpasi pada penis di dapatkan adanya suatu kelainan akibat fibrosis di uretra atau terbentuknya suatu fistula. 
1)      Keadaan umum : lemah
·      Kesadaran : compos mentis
·      Ekspresi wajah : wajah tampak meringis.
2)      Pemeriksaan tanda-tanda vital
·      Suhu : suhu tubuh subnormal (hipertermi)
·      Nadi : frekuensi nadi subnormal (takikardi)
·      RR : Frekuensi pernapasan normal
·      TD : peningkatan TD (hipertensi)
3)      Head to toes
·      Leher         :  bentuk normal.
·      Kepala       :  struktur wajah simetris dan tidak ada pembengkakan.
·      Mata          :  visus normal, tidak ada gangguan pada konjungtiva, sklera, kornea, dan pupil.
·      Telinga      :  tidak ada gangguan pendengaran
·      Hidung      : tidak ada polip
·      Mulut        :  radang pada bibir, gusi, lidah akibat dehidrasi yang dialami.
·      Dada         :  Bentuk dada simetris, denyut jantung meningkat, tidak peningkatan frekuensi pernapasan.
·      Abdomen  : Nyeri abdomen menjalar ke punggung dan pinggang
·      Pemeriksaan anggota gerak (ekstermitas)
Ø  Ekstremitas atas         :  tidak ada gangguan pada ekstremitas atas
Ø  Ekstremitas bawah    :  sulit berjalan karena nyeri yang menyebar ke paha dan genitalia.
e. Pengkajian Diagnostik (Nursalam : 2011)
1). Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk pelengkap pelaksanaan pembedahan dan untuk mengetahui adanya tanda-tanda infeksi melalui pemeriksaan urinalisis dan kultur urine.

2). Uroflowmetri
Pemeriksaan untuk menentukan kecepatan pancaran urine.
3). Radiologi
Diagnosis pasti dibuat dengan uretrografi sehingga dapat melihat letak penyempitan dan besarnya penyempitan uretra.
f. Pengkajian Penatalaksanaan medis
Tidak ada terapi medis untuk mengobati penyakit ini, tetapi untuk mengatasi masalah ini dengan cara pembedahan seperti :
a. Pelebaran uletra baik secara uretrotomi internal atau pemasangan sten uretra.
b. Bedah rekonstruksi.
h. Pengelompokkan Data
Data Subjektif
Data Objektif
-      Klien mengeluh sulit kencing.
-      Klien mengeluh penisnya membengkak.
-      P      :           Nyeri terasa di daerah punggung, pinggang bahkan uretra.
-      Q     :           Nyeri seperti di tusuk-tusuk
-      R :    Nyeri akut, hilang timbul
-      S      :           Nyeri skala 4-5
-       T :   Nyeri bertambah saat beraktifitas, secara tiba-tiba saat miksi
-      Klien mengeluh gelisah tentang penyakitnya.
-      Klien mengeluh cemas
-       Klien mengeluh sulit BAK
-   Klien tampak meringis kesakitan.
-   Klien tampak lemas.
-   Bingung dengan kondisinya.
-   Ketidakmampuan berkonsetrasi    
- Tidak ada urine keluar sama sekali.


g. Analisa Data
No.
Symptom
Etiologi
Masalah
1.











2.




3.


DS      : -          Klien mengeluh sulit kencing.
-  Klien mengeluh penisnya membengkak.
-  P     :     Nyeri terasa di daerah punggung, pinggang bahkan uretra.
-  Q :   Nyeri seperti di tusuk-tusuk
-  R: Nyeri akut, hilang timbul
-  S :   Nyeri skala 4-5
-   T : Nyeri bertambah saat beraktifitas, secara tiba-tiba saat miksi
DO :  -    Klien tampak meringis kesakitan.
-   Klien tampak lemas.
DS : -    Klien mengeluh gelisah tentang penyakitnya.
-       Klien mengeluh cemas
DO : - Bingung dengan kondisinya.
-  Ketidakmampuan `berkonsetrasi

DS : - Klien mengeluh sulit BAK
DO : - Tidak ada urine keluar sama sekali.

Uretra terhambat
Akumulasi urine
Efek mengejan pada saat miksi sekunder








Batu uretra
Obstruksi urine
Tindakan pembedahan


Batu Uretra
Obstruksi
Respon Obstruksi
Retensi Urine
Nyeri











Ansietas




Gangguan eliminasi urine.



2.2.2.   Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan efek mengejan pada saat miksi sekunder dan nyeri paska bedah.
2.  Ansietas berhubungan dengan tindakan pembedahan.
3.  Gangguan eliminasi berhubungan dengan retensi urine.
2.2.3.   Intervensi Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan efek mengejan pada saat miksi sekunder dan nyeri paska bedah.
Tujuan                  : nyeri berkurang/hilang atau beradaptasi
Kriteria hasil        :  - Secara subyektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi.
-       Skala nyeri 0-1 (0-4)
-       Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri.
-       Pasien tidak gelisah
INTERVENSI
RASIONAL
Kaji tingkat nyeri, beratnya (skala 0 – 10).
Berguna dalam pengawasan kefektifan obat, kemajuan penyembuhan.
Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri non-farmakologi dan non-invasif.

Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan non-farmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri.
Lakukan manajemen nyeri:
·      Istirahatkan pasien pada saat nyeri muncul
·      Ajarkan teknik relaksasi napas dalam saat nyeri muncul.
·      Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri.
Manajemen nyeri:
·    Istirahat secara fisiologis dapat menurunkan kebutuhan oksigen.
·    Meningkatkan intake oksigen sehingga akan menurunkan nyeri sekunder.
·    Distraksi (pengalihan perhatian) dapat menurunkan stimulus internal.
Tingkatkan pengetahuan pasien tentang penyebab nyeri dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung.
Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengembangkan kepatuhan pasien terhadap nyeri terapeutik



2. Ansietas berhubungan dengan tindakan pembedahan.
Tujuan             :  Mendemonstrasikan koping yang positif dan mengungkapkan penurunan kecemasan
Kriteria hasil    : - menunjukkan rileks dan melaporkan penurunan ansietas sampai tingkat yang dapat ditangani.
-    Menyatakan kesadaran perasaan ansietas dan cara sehat menerimanya.
INTERVENSI
RASIONAL
Kaji tingkat kecemasan
Mengetahui sejauh mana tingkat kecemasan yang dirasakan oleh klien sehingga memudahkan dlam tindakan selanjutnya
Berikan dorongan dan berikan waktu untuk mengungkapkan pikiran dan dengarkan semua keluhannya.
Klien merasa ada yang memperhatikan sehingga klien merasa aman dalam segala hal tundakan yang diberikan

Jelaskan semua prosedur dan pengobatan
Klien memahami dan mengerti tentang prosedur sehingga mau bekejasama dalam perawatannya.

Berikan dorongan spiritual
Bahwa segala tindakan yang diberikan untuk proses penyembuhan penyakitnya, masih ada yang berkuasa menyembuhkannya yaitu Tuhan Yang Maha Esa.





3.

3.

Ga



3. Gangguan eliminasi berhubungan dengan retensi urine.
Tujuan             : Dalam waktu 5x24 jam pola eliminasi optimal sesuai kondisi klien.
Kriteria hasil    : - Eliminasi urine tanpa ada keluhan subjektif seperti nyeri.
-    Eliminasi urine tanpa menggunakan kateter.
-    Paska bedah tanpa komplikasi.
INTERVENSI
RASIONAL
Kaji pola perkemihan dan catat produksi urine tiap 6 jam.
Mengetahui pengaruh iritasi kandung kemih dengan frekuensi miksi.
Monitor adanya keluhan subjektif pada saat melakukan eliminasi urine.
Parameter penting dalam mengevaluasi intervensi yang telah dilaksanakan.
Kolaborasi :
1. Pelebaran uretra, baik secara uretromi internal atau pemasangan sten uretra.
2. Bedah rekonstruksi.
Intervensi bedah dilakukan untuk mengatasi masalah gangguan eliminasi urine. Pemilihan jenis pembedahan dilakukan sesuai derajat penyempitan dan tingkat tolerasi individu.
Evaluasi paska intervensi pelebaran uretra.
Kekambuhan batu uretra dari intervensi pelebaran uretra adalah komplikasi yang paling umum. Meskipun jarang intervensi untuk melebarkan uretra dapat menyebabkan trauma uretra, kondisi ini termasuk instrumen yang dimasukkan melalui uretolium ke dalam korpus spongiosum. Resiko ini dapat diminimalisasi dengan teknik hati-hati dan pilihan pelebaran yang tepat untuk pasien.
2.2.4. Evaluasi
1. Penurunan skala nyeri.
2. Penurunan tingkat kecemasan.
3. Gangguan pemenuhan eliminasi urine teratasi.

















BAB III
PENUTUP
3.1.    KESIMPULAN
Sistem perkemihan merupakan suatu sistem dimana terjdinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh larut dlam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).
Antomi system perkemihan terdiri dari :
1.      Ginjal
2.      Ureter
3.      Kandung kemih
4.      Uretra
Uretra merupakan saluran yang membawa urine keluar dari vesica urinaria menuju lingkungan luar. Terdapat beberapa perbedaan uretra pada pria dan wanita. Uretra pada pria memiliki panjang sekitar 20 cm dan juga berfungsi sebagai organ seksual (berhubungan dengan kelenjar prostat), sedangkan uretra pada wanita panjangnya sekitar 4 cm dan diameter lubangnya adalah 6 mm. Selain itu, pria memiliki dua otot sphincter yaitu m.sphincter interna (otot polos terusan dari m.detrusor dan bersifat involunter) dan m.sphincter externa (di uretra pars membranosa, bersifat volunter), sedangkan pada wanita hanya memiliki m.sphincter externa (distal inferior dari kandung kemih dan bersifat volunter).
Batu Uretra adalah batu yang terdapat disaluran uretra, umumnya merupakan batu sekunder karena tidak terbentuk di uretra. Batu berasal dari saluran proksimal uretra, baik vesika urinaria, ureter maupun ginjal yang kemudian turun sampai ke uretra. Batu primer jarang terbentuk  di uretra, kecuali terdapat divertikula di uretra.
3.2.    SARAN
1.        Bagi Penulis
Setelah menyelesaikan makalah ini diharapkan kami sebagai mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai penyebab serta upaya pencegahan penyakit Batu Uretra agar terciptanya kesehatan masyarakat yang lebih baik.
2.        Bagi Pembaca
Diharapkan agar pembaca dapat mengetahui tentang Batu Uretra lebih dalam sehingga dapat mencegah serta mengantisipasi diri dari penyakit Batu Uretra.
3.        Bagi Petugas Kesehatan
Diharapkan dapat menambah wawasan dan informasi dalam penanganan Batu Uretra sehingga dapat meningkatkan pelayanan keperawatan yang baik.
4.        Bagi Institusi Pendidikan
Dapat menambah informasi tentang Batu Uretra serta dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini.



1 komentar:

Unknown mengatakan...

boleh tau sumbernya dari mana?
butuh buat tugas

Posting Komentar

 
;